Hindari Kejaran Polisi Belanda, Pencak Organisasi (PO) Didirikan di Luar Kota Lumajang

Sejarah

Situasi sosial di Lumajang pada jaman penjajahan Belanda dibagi antara 3 (tiga) lapisan penduduk yang tidak berkaitan satu sama lain.

Oleh : Mansur Hidayat

Lapisan pertama adalah penduduk Eropa yang biasanya bekerja di sektor pemerintahan dan perkebunan dan menduduki strata paling atas. Lapisan kedua adalah penduduk Timur Asing yang meliputi orang Cina dan Arab yang biasanya bekerja sebagai pedagang perantara dengan perekonomian yang lumayan tinggi. Lapisan ketiga atau lapisan paling bawah adalah penduduk pribumi yang umumnya bekerja sebagai petani kecil. Wilayah Lumajang yang saat itu masih menjadi Onder Afdelling  atau setingkat Kepatihan yang merupakan bagian Kabupaten Probolinggo banyak berdiri berbagai macam Onderneming atau perkebunan mulai dari tebu, tembakau, teh dan coklat.

Menurut buku “Mayor Jenderal Imam Soedja’i: Sumbangsih Untuk Pergerakan Rakyat dan Revolusi Indonesia” dijelaskan bahwa tekanan terhadap kegiatan Sarekat Islam (SI) maupun koran yang diterbitkannya yaitu “Oetoesan Hindia”, dari pemerintah Hindia Belanda di Lumajang begitu keras. Oleh karena itu pihak Sarekat Islam (SI) Lumajang tidak pernah mencantumkan nama pengurusnya, koresponden atau wartawannya karena tidak ingin menjadi sasaran empuk bagi para Preman bayaran pemilik Onderneming dan antek-anteknya seperti yang diberitakan koran tersebut pada tahun 1916. Disamping pressure keras sering dilakukan oleh pihak perkebunan yang tidak mau dirugikan kepentingan usahanya, tekanan besar dilakukan oleh pemerintah dengan dengan mengerahkan orang-orang PID atau Polisi Intelijen pemerintah Kolonial yang terkenal sangat kejam terhadap para aktivis pergerakan nasional terutama Sarekat Islam (SI).

Masuknya organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam (SI) sendiri diawali dengan pertumbuhannya secara bersamaan pada sekitar tahun 1914-an  di Kabupaten  Malang, Probolinggo, Jember maupun Lumajang. Pada sekitar tahun 1925 ketika balik ke Lumajang, Imam Soedja’i yang kemudian menduduki pimpinan Sarekat Islam (SI) melihat keadaan sosial di Lumajang seperti air tenang menghanyutkan di mana terjadi konflik berkepanjangan antara buruh-buruh perkebunan dengan para pemilik Onderneming atau perkebunan Belanda. Untuk menjaga ketentraman sosial dan politiknya, maka pemerintah Kolonial Belanda terus mengawasi para aktivis Sarekat Islam (SI) lewat Polisi PID-nya. Dikarenakan jumlahnya terbatas dan hanya terdapat di kota-kota besar, maka di wilayah Lumajang pemerintah Kolonial menugaskan Pangreh Praja atau pegawai pribumi untuk membantu tugas-tugas intel kepolisian dengan nama Mantri Polisi. Oleh karena Imam Soedja’i terus menerus mendapatkan pengawasan dari para kaki tangan Belanda tersebut sehingga banyak mengalihkan pergerakan politiknya di luar kota Lumajang terutama di Distrik Tempeh.

Dipilihnya Distrik Tempeh menjadi basis pergerakan Imam Soedja’i dikarenakan, pertama karena wilayah ini merupakan basis pergerakan Sarekat Islam (SI) yang cukup militan sejak awal berdirinya organisasi pergerakan tersebut yang dibuktikan dengan kedatangan pimpinan Sarekat Islam, HOS Cokroaminoto pada sekitar tahun 1918-an. Perekonomian Distrik Tempeh yang cukup pesat sebagai wilayah yang menjadi tempat persimpangan untuk pengangkutan hasil perkebunan menjadikan kelompok pedagang pribumi mempunyai peran yang cukup penting. Banyak petani kaya dan pedagang sukses di wilayah ini yang kemudian menjadi pendukung Sarekat Islam (SI). Oleh karena itu Imam Soedja’i mempunyai kawan dan pendukung yang cukup banyak dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah Kolonial Belanda termasuk pendirian perguruan silat yang sedang di gagasnya tersebut. Kedua  dikarenakan di Distrik Tempeh, Imam Soedja’i mempunyai seorang Pak De bernama Raden Mas Sastro Wardoyo yang saat itu menjabat Mantri Polisi. Keberadaan Raden Mas Sastro Wardoyo sangat menguntungkan bagi Imam Soedja’i secara pribadi karena memang Pak De nya tersebut merupakan pendukung bawah tanah Sarekat Islam (SI).

Karena 2 (Dua) faktor yang sangat menguntungkan tersebut, maka ide dan gagasan pendirian perguruan silat yang nantinya akan dijadikan sayap Partai Sarekat Islam (SI) dipersiapkan. Menurut informasi banyak para pengusaha tembakau pribumi di Distrik Tempeh yang kemudian menjadi pendukungnya. Meskipun demikian sebagai seorang tokoh pergerakan kewaspadaan selalu diutamakan oleh Imam Soedja’i sehingga persiapan pendirian perguruan silat ini dilakukan dari kampung ke kampung yang jauh dari pandangan publik Eropa dan Timur Asing. Menurut Imam Hidayat (sekarang sudah wafat) yang sempat di wawancarai oleh penulis buku Mayor Jenderal Imam Soedja’i pendirian Perguruan silat yang kemudian diberi nama Pencak Organisasi (PO) ini berada di Desa Lempeni. Dari berbagai informasi lapangan yang diterima oleh tim MMC  seperti yang dikemukakan oleh Heri (55 tahun) yang merupakan tokoh masyarakat setempat, tempat  berdirinya perguruan silat ini di Dusun Krajan Desa Lempeni yang terletak dekat perbatasan dengan desa Tempeh Kidul, sedang tempat berlatihnya biasanya dilakukan di pinggiran Kali Mujur dibelakang gudang tembakau dekat jembatan. Keterangan dari warga setempat ini ternyata sesuai dengan foto yang diperoleh oleh tim MMC yang menujukkan latihan kepanduan para siswa yang tergabung dalam Sarekat Islam Afdelling Pandoe (SIAP) sedang berada  di pinggiran sungai Mujur pada tahun 1934-an.

  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.