Berebut Tahta Majapahit: Ibu Kota Pindah Dari Trowulan Ke Daha dan Berakhir di Panarukan

Sejarah

MAJAPAHIT adalah sebuah kerajaan besar di Nusantara dan pernah menjadi imperium tunggal yang malang melintang selama ratusan tahun di belahan bumi bagian selatan. Kerajaan ini bercirikan negara militeristik kuat berbasis agraris-bahari yang pondasinya mulai dibentuk tahun 1293 M oleh Sri Sanggrama Wijaya dan mengalami masa kejayaan saat pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi Mahapatih Amangkubhumi  Gajah Mada.

Oleh : Zainollah Ahmad

Sepeninggalnya, Majapahit mulai melemah hingga mengalami keruntuhannya pada awal abad ke-16. Banyak teori tentang keruntuhan kerajaan Jawa ini, seperti adanya konflik internal dan adanya serangan Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Konflik internal yang memperparah kehancuran Majapahit dimulai sejak Perang Paregreg (1401 – 1406 M) antara Bhre Wirabhumi sebagai putra dari selir Hayam Wuruk melawan suami dari putri Hayam Wuruk (Kusumawardhani) yakni Wikramawardhana. Dengan meninggalnya dua orang yang paling berpengaruh dan disegani di Majapahit yaitu Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada dan Rajapatni Dyah Gayatri pada tahun Drestisaptaruna-1272 (1350 Ma) menyebabkan Majapahit makin kehilangan wibawa. Disusul kemudian dengan mangkatnya anggota senior dari Bhattara Saptaprabhu (Pahom Narendra), ratu Daha Dyah Wiyat dan saudaranya Tribhuwana Tunggadewi (Dyah Gitarja) pada tahun 1375 M, mengakibatkan kerajaan makin lemah dan diambang perpecahan.

Kondisi Majapahit yang mulai pudar kejayaannya dan tambah carut marut sejak Bhre Wengker Wijayarajasa mertua Hayam Wuruk mendirikan Kedaton Wetan di Pamwatan (Pamotan) di tahun 1376 M. Hal ini yang menyebabkan keluarga besar Majapahit menjadi terbelah. Sebagian besar masih setia kepada Rajasanegara (Hayam Wuruk), namun sebagian memilih berhadapan-hadapan dengan pusat. Bhre Wirabhumi merasa tidak puas karena saudara tirinya, Kusumawardhani diangkat sebagai putri mahkota, dimana pengangkatan ini menimbulkan kegemparan di istana karena di luar tradisi dan kelaziman. Bhre Wirabhumi merasa lebih memiliki hak karena dia laki-laki. Namun karena putra selir, keabsahan Bhre Wirabhumi kurang diakui dan dianggap tidak memiliki legitimasi. Situasi makin runyam ketika menantu Hayam Wuruk, Wikramawardhana dianugerahi gelar putra mahkota, dimana dia sebenarnya juga merupakan keponakan raja. Menyikapi hal ini Bhre Wengker Wijayarajasa tidak bisa menerima keadaan itu, ia protes dengan meminta kepada Indudewi putrinya untuk mengangkat Bhre Wirabhumi juga sebagai anak sekaligus menantunya. Itu dilakukan sebagai wujud pengakuan bahwa Bhre Wirabhumi juga lebih berhak atas tahta karena laki-laki meskipun putra selir.

Bhre Wirabhumi naik tahta di Kedaton Wetan pada tahun 1389 M menggantikan Bhre Wengker. Kemudian disusul dengan diangkatnya Wikramawardhana (Bhra Hyang Wisesa) sebagai raja Majapahit ke-5 yang memerintah 12 tahun lamanya. Naiknya Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi ke singgasana memunculkan ‘matahari kembar’ di Majapahit, peristiwa tersebut hampir bersamaan dengan wafatnya Rajasanegara (Hayam Wuruk). Sengketa itu kemudian diperuncing dengan perebutan gelar ‘Bhre Lasem’, yang saat itu Indudewi mengukuhkan gelar Bhre Lasem (Sang Alemu)  kepada Nagarawardhani sebagai puterinya. Tapi Wikramawardhana berbuat serupa dengan mengangkat isterinya Kusumawardani sebagai Bhre Lasem (Sang Ayu). Akibatnya sudah dapat dibayangkan, dua kekuatan tunggal wangsa itu mulai saling mengintai. Ketika Sri Rajasanegara masih hidup, permusuhan masih berupa api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa melalap dan membesar. 

Sepeninggal Hayam Wuruk, Gajah Mada dan Rajapatni (Dyah Gayatri), genderang perang mulai ditabuh. Kedaton Kulon (barat) yang dipimpin Wikramawardhana dan Kedaton Wetan (timur) yang dipimpin Bhre Wirabhumi terlibat  perang cukup lama dalam peristiwa  Paregreg (1401-1406 M.). Perang ini pada awalnya dimenangkan Kedaton Wetan, sehingga Bhre Hyang Wisesa menjadi marah dan hampir putus asa. Ia kemudian berniat pergi meninggalkan istana karena Bhre Tumapel dan Bhre Hyang Parameswara tidak mau turun membantu. Ketika ia bersiap hendak kabur karena tidak mungkin melawan Bhre Wirabhumi yang juga dibantu sebagian keluarga istana, berkatalah Bhre Tumapel, “Jangan terburu-buru pergi dulu, kami yang akan melawannya”. Akhirnya perang berkecamuk kembali, tapi kali ini pasukan Kedaton Kulon dapat mengimbangi Kedaton Wetan karena dukungan dari dua orang tersebut.

Menurut Babad Pararaton, perang yang berlarut-larut itu akhirnya berakhir ketika Kedaton Kulon menggelar pasukan secara besar-besaran dipimpin oleh Bhre Tumapel (Manggalawardhana putera Wikramawardhana) dan Bhra Hyang Parameswara menyerbu Kedaton Wetan tahun 1406 M. Akibatnya Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan telak, ia melarikan diri dengan naik perahu pada saat tengah malam. Panglima Majapahit Kedaton Kulon, Bhre Narapati atau Raden Gajah yang bergelar Ratu Angabhaya lalu mengejar dan memenggal lehernya, kemudian dibawa ke istana Majapahit. Untuk menghormati putera raja Rajasanegara negara tersebut, kepala Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung, candi makamnya disebut Girisapura.

Pada tahun 1355 Saka atau tahun 1430 Masehi, Ratu Angabhaya Bhre Narapati dijatuhi hukuman mati dengan cara dipancung. Maharani Suhita menginginkan pembunuh kakeknya (Bhre Wirabhumi) juga harus dihukum setimpal dengan cara yang sama. Kemudian dengan berakhirnya Paregreg pada tahun 1406 M, menjadikan Kedaton Wetan kembali menjadi kerajaan vassal pusat, meskipun tetap diperintah oleh keturunan Bhre Wirabhumi. Ketika masa pemerintahan Rani Suhita beberapa tahun setelah peristiwa Paregreg, Kedaton Wetan yang dipimpin Bhre Daha kembali menyerang Kedaton Kulon yang menyebabkan kerugian besar. Penyerangan ini dilakukan sebagai wujud balas dendam dari keluarga atau simpatisan trah Bhre Wirabhumi. Perang yang terus menerus melanda bekas kerajaan Majapahit, menyebabkan para raja yang berkuasa menduduki tahta tidak pernah lama. Begitu juga yang terjadi di Kedaton Wetan dengan penguasa yang silih berganti akibat perang suksesi dan intervensi kekuatan luar, menyebabkan pusat kekuasaan sering berpindah.

Seusai Paregreg (1401-1406 M), pemerintahan Majapahit dilanjutkan oleh raja Hyang Wisesa Wikramawardhana (1349-1427 M) yang kemudian meninggal dalam situasi konflik belum reda. Jenazah Wikramawardhana dicandikan di Lelangon. Candi makamnya disebut Paramawisesapura. Perang masih terus menerus dan silih berganti antara kalah dan menang, setelah pemerintahan Dewi Suhita hingga Raja Kertawijaya (1447-1451 M) yang mengeluarkan Prasasti Waringinpitu. Kertawijaya merupakan putera Wikramawardhana yang lahir dari isteri selir. Di masa raja Sri Kertawijaya ini banyak problem akut keneragaraan seperti bencana kelaparan, gunung meletus, gempa bumi, dan pembunuhan di Tidung Gelating yang dilakukan Bhre Paguhan.

Kekuasaan Kertawijaya mendapat serangan kudeta dari Rajasawardhana, sehingga menyebabkan kematiannya. Pararaton menyebutkan bahwa Rajasawardhana (Sang Sinagara) yang kelak naik tahta sebagai raja Majapahit ke-7 pada tahun 1451-1453 M yang  diidentikkan dengan Bhre Pamotan, Bhre Keling atau Bhre Kahuripan. Setelah Rajasawardhana mangkat, Majapahit mengalami interegnum selama tiga tahun (telung taun tan hana prabhu) mulai tahun 1453 M hingga tahun 1456 M. Rajasawardhana Sang Sinagara dicandikan di Sepang, meninggalkan empat orang keturunan, yakni Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan dan Bhre Kertabhumi. Meninggalnya Rajasawardhana Sang Sinagara disebabkan oleh suatu peristiwa perebutan kekuasaan antara Dyah Suryawikrama dan Samarawijaya. Dalam perebutan tahta Majapahit antara mertua dan menantu tersebut dapat dimenangkan oleh Suryawikrama. Suryawikrama kemudian naik tahta sebagai raja Majapahit dengan gelar Dyah Suryawikrama Girishawardhana.       Baru pada tahun 1456 M, tahta kerajaan diisi oleh Bhre Wengker dengan nama abhiseka Bhatara Hyang Purwawisesa. Ia memerintah selama sepuluh tahun. Pengganti Bhre Wengker adalah Bhre Pandan Salas yang hanya memerintah selama dua tahun (1466-1468 M), ia juga dikenal dengan Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana.

Semasa pemerintahannya terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh Bhre Kertabhumi pada tahun 1474 M. Pararaton tidak menyebutkan siapa pengganti Bhre Pandan Salas, kecuali disebutkan dalam Prasasti Jiyu yang berisikan pengukuhan hadiah tanah oleh raja Singhawikramawardhana kepada Bhrahmaraja Ganggadara. Kemudian pada tahun 1486 M Sri Girindrawardhana naik tahta menjadi raja Wilwatikta, Daha, Janggala Kadiri.

Setelah Singhawardhana, yang memerintah Majapahit adalah Bhre Kertabhumi, putera Bhre Pamotan Sang Sinagara yang bungsu. Kertabhumi memerintah sampai tahun Saka 1400 dengan kronogram Sunya-nora-yuganing-wong, atau tahun 1478 M. Nama Kertabhumi digunakan sebagai candrasengkala dalam Serat Kandha untuk menyatakan lenyapnya kerajaan Majapahit akibat serangan tentara Demak yang terakhir, Sirna-ilang-kertaning-bhumi (tahun Saka 1400). Ketika keraton diserang oleh Bhre Kertabhumi, berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan olehnya, ia menyingkir ke Daha. Sepeninggal Dyah Suraprabhawa, kedudukannya sebagai raja Majapahit digantikan oleh anaknya Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Sebelum Ranawijaya menjadi raja Majapahit ia pernah sebagai Bhattara i Kling, yang berkedudukan di Kling (Keling).

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ini akhirnya mengadakan revanche kepada musuh ayahnya (Bhre Pandan Salas), dengan melancarkan serangan kepada Bhre Kertabhumi, yang menyebabkan Bhre Kertabhumi gugur di kedaton. Dalam versi Pararaton dijelaskan, berakhirnya Kerajaan Majapahit sebagaimana yang ditulis adalah tahun 1478 M karena diserang oleh Dyah Samarawijaya dan tiga orang saudara-saudaranya. Karena menganggap raja yang berkuasa di Majapahit yaitu Dyah Suraprabhawa tidak berhak atas tahta. Rajasawardhana kemudian wafat digantikan oleh Girisawardhana. Setelah wafatnya Girisawardhana inilah Dyah Suraprabhawa tampil menggantikan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan putera-putera Rajasawardhana yang merasa lebih berhak. Pemberontakan Samarawijaya atas Majapahit pada tahun 1478 M tersebut, mengakibatkan tewasnya raja Majapahit dan Samarawijaya sendiri.             Selanjutnya Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang menjadi raja Majapahit berkedudukan di Daha, pada tahun 1527 M mengalami kekalahan oleh serangan Demak, hingga dia harus menyingkir ke wilayah Panarukan dan mendirikan kekuasaan baru di sana.

  • Editor : Mansur Hidayat

2 thoughts on “Berebut Tahta Majapahit: Ibu Kota Pindah Dari Trowulan Ke Daha dan Berakhir di Panarukan

    1. Sumber primer pada pd kronik Portugis, bisa dicek pada Tome Pires, Mendez Pinto. Atau lebih mudah, simpulannya pada catatan S. Mulyana, penulis hnya menganalisa dan jatuh pada hipotesa ttg bbrp hal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.