Asal Usul Kerajaan Blambangan Mula: Berpusat di Kedawung dan Chamda (Sekarang Kabupaten Jember)

Cagar Budaya Sejarah

Setelah berakhirnya era Majapahit, wilayah Timur Jawa sebagian jatuh kepada kendali kerajaan Islam, yaitu Demak dan dilanjutkan Mataram (Islam). Beberapa kali ekspansi Demak dan Mataram dilakukan terhadap kawasan Timur Jawa (Bang Wetan) seperti Pasuruan, Kaniten, Lumajang (Arenon dan Tepasana), Puger, Blater, Kedawung, Pajarakan, Panarukan dan Blambangan.

Oleh : Zainollah Ahmad

Dengan munculnya hegemoni kekuasaan baru dan semua mengaku sebagai “pewaris Majapahit” menjadikan banyak wilayah ter-kooptasi menjadi kerajaan kecil (kadipaten) merdeka. Di kawasan Jember muncul kekuasaan otonom yang disebut sebagai Chamda, dalam catatan Tomé Pires, Suma Oriental, wilayahnya meliputi antara lembah Gunung Raung dan Gunung Argopuro. Kerajaan ini banyak disebut para ahli sejarah dengan istilah “The Kingdom of O’Vale (Valley)” karena berkuasa di kawasan lembah yang berbentuk “O”. Sehingga dugaan keberadaan Chamda, Chandeatau Chandy itu dimungkinkan berada di kawasan antara Puger, Gumukmas, Semboro dan Tanggul. Hal ini berdasarkan hipotesis karena daerah tersebut sangat subur, juga dengan melihat banyaknya peninggalan bersejarah di tiga daerah tersebut.

Selain Chamda sebagai pelanjut Sadeng, berdasarkan catatan Babad Blambangan, yang diterjemahkan JLA. Brandes dan diperkuat C. Lekkerkerker (Winarsih Arifin, 1995), terdapat juga nagari Kedawung, sebuah kerajaan yang menurunkan Prabu Tanpauna hingga Tawangalun di Blambangan dan dinastinya kemudian. Dalam keterangan babad, lokasi keberadaannya mengarah kepada kawasan antara Tanggul, Semboro dan Umbulsari, karena bukti adanya peninggalan arkeologis berupa Situs Beteng di Desa Sidomekar Kecamatan Semboro, Kutha Kedawung  di Desa Paleran Kecamatan Umbulsari dan Penggungan di Desa Klatakan Kecamatan Tanggul.

Berdasarkan Babad Sembar yang mencatat sejarah awal Blambangan, pendiri Blambangan bernama Lembu Miruda (Lembu Anisraya) yang merupakan putera Brawijaya V dari pasraman Gunung Bromo (Gunung Brahma). Lembu Miruda memiliki anak bernama Mas Sembar dan Mas Ayu Singosari, Mas Sembar berkuasa di Blambangan bagian timur. Tidak jelas dimana ibu kota Blambangan saat itu, ada yang menyebut di Puger dan Kedawung. Karena kelemahan substantif Babad Sembar adalah tidak merujuk tahun raja-raja awal yang memerintah. Bahkan patokan tahun pemerintahan Lembu Anisraya adalah tahun keruntuhan Majapahit 1478 M berdasarkan Serat Kandha dan Serat Damarwulan yang banyak menuai kontroversi (Ahmad, 2020). Selain itu juga dicatat bahwa keraton berpindah ke timur dari Tepasana melalui pantai timur Puger, lalu kembali ke barat (Tepasana), lalu pindah lagi ke timur lewat Kedawung pada era raja Tawangalun. Babad Sembar hanya mengakui adanya satu raja bernama Tawangalun, yang berkedudukan di Kedawung dan kemudian pindah ke Bayu.

Nama Kedawung juga dikaitkan dengan Minak Gadru, penguasa di Prasada (Deprasada, sekarang masuk Situbondo) dan Babadan, setelahnya berpindah ke Lumajang. Namun Babadan ini banyak yang memperkirakan berada di kawasan Situbondo, sering disebut bersamaan dengan Babadan-Prasada. Namun ada juga pendapat yang merujuk pada nama dusun Babatan di Sidomekar, Semboro yang cukup dekat dengan Situs Beteng, Sidomekar. Selain itu dihubungkan dengan keberadaan Minak Lumpat (putera Minak Gadru), seorang raja dari Tepasana Lumajang yang kemudian merebut “payung kekuasaan” di Kedawung, sehingga bergelar Sunan Rebut Payung (Brandes, 1894). Ibu kota ini lokasinya belum jelas karena sering disebutkan juga berada di Kedawung (mana ?) dan Puger.

Dalam beberapa catatan sejarah, entitas Puger dan Kedawung ternyata memiliki kedaulatan sendiri sebagai daerah yang merdeka. Menurut Tomé Pires dalam Suma Oriental,  kawasan ini pernah disatukan oleh Pate Pimtor (Minak Pentor, 1500-1531 M) dengan nama Chamda yang berbatasan dengan Pasuruan dan Pajarakan serta Panarukan (Graaf ; Pigeaud, 1985 :240). Chamda adalah nama sebuah entitas kekuasaan yang pernah ada di Jember sebagai pelanjut Sadeng (pada era Majapahit) pada abad ke-15 – 16. Bahkan bisa dikatakan keberadaan Chamda yang merupakan monarki Jember memiliki kota-kota “satelit” seperti Puger dan Kedawung sebagai ibu kota, dan beberapa kota kuno seperti Kutha Bara (Kutho Boro), Kutha Kedawung, Kutha Kranjingan, Kutha Blatter, Kutha Sabrang-Renes, Poeger Wetan, Tjoera Manis, Andong Biroe dan Maketep (Hageman, 1830). Menurut J. Hageman, kota-kota bertembok tebal dari bata merah (batabang) dan memiliki bangunan suci itu sudah lama ada, yaitu pada sekitar era Majapahit. Chamda ini juga dikenal dengan nama Chande (Chandy) atau “Candi” untuk  mendeskripsikan tentang banyaknya bangunan pemujaan di kawasan lembah antara Gunung Raung dan Argopuro (Jember) ini. Chamda wilayahnya meliputi kawasan Blambangan dan Lumajang (Arifin, 1980).

Dalam buku Suma Oriental (2013), Kerajaan Chamda masih memiliki kaitan dengan Pasuruan yang dikuasai oleh Minak Sepethak (Pate Sepetat) yang juga ada ikatan keluarga dengan Pate Pular dari Camjtan (penguasa Pajarakan dan Panarukan). Chamda, Gamda dan Camjtan adalah tiga entitas terbesar kerajaan yang mengklaim sebagai penerus Majapahit. Namun ketiganya terkadang bermusuhan dan terlibat perang (Graaf; Pigeaud, 1985). Dengan demikian keberadaan Chamda sebagai kekuasaan pemerintahan monarki Klasik di Jember, kiranya lebih jelas dan tegas dari pada Blambangan. Sehingga kebesaran Majapahit dilanjutkan dengan klaim sebagai penerus Majapahit dengan mempertahankan simbol-simbol peradabannya.

Pada masa Mataram (Islam), nama Chamda sudah tidak disebut lagi karena kemunculan entitas “negara baru” yaitu di (kawasan) Bang Wetan, dengan tiga pusat kekuasaannya yaitu Puger (termasuk Kutha Blatter), Panarukan dan Blambangan (Graaf; Pigeaud, 1985). Ketiganya pernah mendapat serangan hebat tentara Mataram, bahkan Puger dan Kutha Blatter dibumi-hanguskan karena tidak mau tunduk (Arifin, 1980). Rupanya nama Chamda bergeser dan berubah dengan sebuah entitas baru, yakni Kedawung (Kutha Kedawung) yang memiliki dua kompleks berupa perbentengan di Sidomekar, Semboro dan asrama para perwira di Tumenggungan (Penggungan). Terkait dengan keberadaan Situs Beteng, Situs Penggungan dan Situs Kutha Kedawung, sangat memungkinkan menjadi pusat peradaban (ibu kota) kekuasaan Chamda yang telah berubah menjadi Kedawung sebagai pelanjut monarki besar Majapahit dengan menempati kembali bekas tinggalannya. Beberapa nama penguasa yang dihubungkan dengan keberadaan Chamda adalah Mas Kriyan (Graaf : Mas Caraien) dan Minak Lumpat atau Pangeran Tanpauna yang bergelar “Pangeran Kedawung”. Akan tetapi dengan minimnya sumber-sumber pembanding Babad Sembar yang membahas Blambangan, nama-nama para penguasa ini selalu dikaitkan dengan Blambangan yang beribu kota di Kedawung (Samsubur, 2001).

Setelah eksistensi kekuasaan monarki Chamda dan Kedawung mulai memudar dan berangsur lenyap, maka muncullah nama Blambangan Mula yang ibu kotanya berada di Kutha Kedawung. Nama-nama penguasa Blambangan dicatat dalam beberapa sumber sekunder seperti Serat Kandha yang ditulis pada abad ke-17, Serat Damarwulan (1815) dan Serat Raja Blambangan (ditulis sekitar tahun 1774). Penulisan kronik itu dilakukan jauh setelah kejayaan Blambangan yakni di masa Mataram Islam dan masa Kolonial.

Dalam tulisan berbeda dari C. Lekkerkerker, sejarawan Belanda yang mengisahkan bahwa Tawangalun adalah keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit dari keluarga di Pegunungan Tengger. Silsilah Tawangalun berawal dari Lembu Agnisraya atau Lembu Miruda, bangsawan dari Tengger, Gunung Bromo. Dari bangwasan ini lahirlah Arya Kembar yang memiliki putera bernama Bima Koncar atau Minak Sumendhe, keturunannya berlanjut pada Minak Gadru atau Minak Gandrung. Lalu kemudian Minak Lampor atau Minak Lumpat. Dari bangsawan terakhir ini nama Tawangalun muncul yaitu Tawangalun I dan Tawangalun II. Dalam hal ini dua babad berbeda yang mengisahkan kebesaran Tawangalun, termasuk nama garbhopati, siapa sejatinya Tawangalun I dan II. Menurut Babad Sembar, kemunculan nama Tawangalun diawali dengan penyerbuan Minak Lumpat ke keraton Kedawung. Saat itu Kedawung memiliki wilayah Lumajang, Malang dan Blambangan yang saat itu dikuasai Pangeran Singosari. Penyerangan itu sukses, Pangeran Singosari takluk dan kabur ke Mataram untuk meminta perlindungan kepada Sultan Agung Hanyakrakusuma, pada sekitar tahun 1638-1639 M. Saat pelarian ke Mataram, Pangeran Singosari membawa puteranya Mas Kembar. Sepuluh tahun kemudian Mas Kembar menikahi selir Sultan Agung yang hamil tiga bulan, kemudian ia diangkat menjadi raja Blambangan tahun 1645 M setelah daerah itu ditaklukkan. Mas Kembar kemudian memerintah di pusat kerajaan di Probolinggo dengan gelar Prabu Tawangalun (I).

Kesimpang-siuran kronik-kronik dalam menyebutkan nama-nama raja yang berkuasa di Blambangan serta pertautan antara sumber satu dengan lainnya, cukup menyulitkan untuk menetapkan silsilah yang baku. Seperti halnya Babad Sembar yang ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan aksara Bali, berisi silsilah mengenai raja-raja Blambangan. Dalam bait pertama yang berisi 10 bait menyebutkan ada lima – enam angkatan sebelum Prabu Tawangalun. Nama Tawangalun disebutkan tidak hanya satu, selain itu diceritakan juga bahwa terjadi perpindahan ibu kota kerajaan sampai 3 kali, yaitu mulai dari Tepasana (Lumajang), menuju Puger kemudian kembali lagi ke tempat semula. Sedangkan Babad Tawangalun yang kira-kira dibuat antara tahun 1832-1841, ditulis pada masa Suranegara menjadi bupati di Surabaya. Menurut teks babad, nenek moyang raja-raja Blambangan adalah Pangeran Kedawung pada abad ke- 17, yang menyebutkan Tawangalun merupakan putera dari Buyut Somani. Kehancuran ibu kota Panarukan pada masa awal Mataram (Islam) dan ketakutan terhadap serangan dari sebelah barat menjadi alasan mengapa ibu kota dipindahkan ke Kedawung (Puger, Kabupaten Jember). Perpindahan itu terjadi setelah tahun 1596 M dan mungkin tahun 1600 M. Ini merupakan perubahan fundamental, karena selain ibu kota dipindahkan dari pantai utara ke pantai selatan, Blambangan juga diperintah oleh dinasti baru, yaitu dinasti Tawangalun. Meskipun keturunan dinasti Tawangalun memerintah sampai abad ke- 19, namun dalam Babad Tawangalun dan babad lainnya tidak mencatat keturunan yang mendahuluinya yang tidak mempunyai hubungan keturunan. Pangeran Tawangalun yang pertama mungkin memerintah pada tahun 1600 M dan setelah itu seharusnya ada seorang pangeran yang memakai nama sama. Dugaan ini semakian kuat setelah Kerajaan Mataram menyerang Blambangan sejak tahun 1635 M. Ekspedisi yang dikirim Sultan Agung pada tahun 1635 M terdiri atas 30.000 laskar yang menyerang Puger dan Panarukan (Sudjana, 2001). Pada tahun 1639 M kembali Mataram mengirim ekspedisi ke Blambangan. Prajurit Mataram menyerang dan menghancurkan Puger dan kawasan sekitarnya yang terletak di pesisir selatan Blambangan, sementara sekali lagi penduduknya dideportasi ke Mataram.

  • Editor : Mansur Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.