Yoni Mbah Sentono Kunir, Dipercaya Bisa Datangkan Hujan

Budaya Lokal Cagar Budaya Dongeng Sejarah

Perjalanan menuju Situs Kunir Sentono yang terletak di pemakaman umum rakyat di Desa Kunir Lor dari Kota Lumajang diperkirakan sekitar 13,5 kilo meter dan tepat berada di pinggir jalan besar antara kota Kecamatan Kunir dengan Kota Kecamatan Tempeh.

Oleh : Mansur Hidayat

Desa Kunir Lor sendiri merupakan ibu kota dari Kecamatan Kunir. Jarak antara Situs Kunir Sentono dengan Candi Betari Durgo yang terletak di Desa Kedungmoro adalah sekitar 4,2 kilo meter, dengan SD Reco atau SD Kunir Kidul 04 yang dulunya candi kira-kira sejauh 3 kilo meter sedang jaraknya dengan Situs Krai Sentono sekitar 9 kilo meter.

Seperti yang telah kita ketahui, nama Sentono Mbah Sentono sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yang kemudian di serap menjadi bahasa bahasa Jawa kuna. Dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, kata asthana berarti Balai pertemuan atau tempat di bagian dalam istana. Kata asthana ini dalam bahasa Jawa baru kemudian banyak berubah menjadi kata Sentana. Oleh karena itu Petilasan Mbah Sentono ini dapat diduga sebagai seorang pejabat lingkaran dekat istana yang mengurusi masalah percandian atau pemujaan Syiwa. Pada masa kerajaan Majapahit yang sejaman dengan kerajaan Lamajang Tigang Juru pejabat keagamaan ini dinamakan Dharmadyaksa Ring Kasyaiwan.

Dalam survey Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Kabupaten Lumajang pada tahun 1990-an disebutkan bahwa di kuburan Sentul Desa Kunir Lor terdapat sebuah Yoni yang sudah aus. Yoni tersebut berukuran: panjang 39,5 centi meter, lebar 39,5 centi meter dan tinggi 49,5 centi meter. Lubang tempat lingga berbentuk persegi dengan ukuran 14  cm X 14 cm dan dalamnya 26,5 centi meter. Selain itu dikuburan ini terdapat pecahan batu bata kuno berukuran panjang tidak diketahui, lebar 19,5 centi meter dan tebal 6,5 centi meter.Menurut informasi, bata kuno tersebut berasal dari fondasi candi yang diketemukan pada tahun 1960-an.

Tim MMC kemudian mendatangi Situs Kunir Sentono ini untuk memastikan jejak-jejak komplek percandian di wilayah Kunir  seperti yang dilaporkan dalam hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta. Tim kemudian bisa menemui pihak Ketua Rukun Tetangga (RT) Bapak Suwarno. Menurut sang Ketua RT yang rumahnya kebetulan berada di sebelah situs ini, menyatakan bahwa Watu Lumpang (sebutan untuk Yoni) tersebut sudah ada turun-temurun sejak jaman dahulu dan menurut cerita leluhurnya yang babad Desa pertama adalah Buyut Sinten dan Buyut Kan.

Masyarakat Kunir sendiri mengakui kharisma Watu Lumpang Mbah Sentono ini karena setiap Jum’at manis biasanya terdengar bunyi gamelan meski kalau didatangi tidak ada orang apalagi alat-alat gamelan tersebut. Bunyi gamelan ini mulai hilang sejak tahun 2010-an. Berkaitan dengan warga yang sedang hajatan, biasanya dibawa ke Watu Lumpang Mbah Sentono tersebut karena jika tidak dilakukan maka nasi yang dimasak tidak bisa matang. Demikian juga pengantin biasanya mendatangi tempat ini supaya tidak kesurupan. Oleh karena itu setiap ada Jaran Kencak dan kawinan, Watu Lumpang Mbah Sentono ini selalu menjadi tujuan utama. Lebih jauh Pak Suwarno juga bercerita bahwa ketika ada kekeringan melanda daerahnya, warga kemudian menggelar wayangan dan sebelum wayang selesai digelar hujan biasanya sudah turun.

Disamping itu Kepala Dusun Bapak Atnoyo juga membenarkan kisah Ketua RT nya tentang kharisma Mbah Sentono tersebut dan setiap Jum’at manis ada saja masyarakat yang membersihkannya. Demikianlah kedekatan dan kharisma Mbah Sentono yang terasa hingga masa modern sehingga selalu dekat di hati masyarakat. Kedekatan ini kemudian berakhir ketika pada tahun 2017-an Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang membawa Watu Lumpang Mbah Sentono ini untuk di museumkan yang disaksikan oleh Pak Ketua RT Suwarno.

Sementara itu Kepala Bidang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lumajang Siswanto yang di dampingi stafnya yaitu Siyono Hadi dan Ita Lestari menyatakan bahwa Yoni Kunir Sentono ini dipindahkan ke Museum dalam kaitannya supaya perawatan dan keamanannya lebih terjamin.

  • Penulis : Mansur Hidayat
  • Reporter : Aji/Yoshi
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.