SIWA : Kesatria Wangsa Surya

Resensi Buku

Judul Novel                 :    SIWA: Kesatria Wangsa Surya

Penulis                        :    Amish Tripathi

Penerbit                      :    Javanica- PT Kaurama Buana Antara

Penterjemah               :    Desak Nyoman Pusparini

Tahun Terbit               :    2016

Jumlah Halaman        :    427

Oleh : Mansur Hidayat

Sinopsis

Siwa adalah seorang pemuda Desa terpencil dekat dengan puncak “gunung Kailasha” atau dataran Himalaya dan berasal dari suku kecil bernama “guna” yang kehidupannya begitu liar. Suku Guna sendiri merupakan suku kecil penguasa danau suci di gunung Kailasha yang terus bertempur sepanjang tahun dengan suku-suku liar lainnya di pegunungan ini yang ingin merebut danau suci tersebut. Siwa sendiri sebenarnya sebagai kepala suku Guna yang masih muda ingin merangkul suku-suku liar lainnya, namun keinginannya tidak pernah terwujud.

Dilain tempat, tersebutlah sebuah kerajaan bernama “meluha” yang merupakan kerajaan dari keturunan dan penerus tradisi “sri rama”, yang merupakan sebuah kerajaan dengan ciri khas kaku dan patuh secara mutlak pada hukum maupun ritual dari Sri Rama sang “awatara wisnu”. Saat itu kerajaan Meluha dipimpin oleh seorang Maharaja bernama Dhaksa yang merupakan seorang yang lemah dalam kepribadian namun punya keinginan untuk menerapkan aturan bangsanya yang merupakan bagian dari Wangsa Surya pada pesaingnya yaitu Wangsa Candra sehingga dianggap Maharaja dalam persatuan seluruh “bharata warsa” atau India .

Secara pribadi, Maharaja Dhaksa sangat percaya pada sebuah dongeng kuno turun-temurun yaitu adanya Nila Kanta yang dianggap pembebas. Oleh karena keyakinannya tersebut, sang Maharaja tidak segan-segan mengadakan penculikan para pemuda dari suku-suku liar di sekitar pegunungan Kailasha. Dalam kaitan ini, tersebutlah seorang perwira bernama Nandi yang ditugaskan bekerja sama dengan suku Guna termasuk memindahkan pemimpin mudanya bernama Siwa dengan sekitar 200 anggota sukunya.

Ketika dipindahkan ke ibu kota kerajaan Meluha yang bernama Dewagiri, seluruh anggota suku Guna diberi minuman bernama Somras yang dijuluki minuman para Dewa karena bisa memanjangkan usia antara 200-300 tahun. Lantas apa yang terjadi pada Siwa setelah minum Somras?. Sungguh ajaib, leher Siwa kemudian berubah berwarna Ungu. Setelah lehernya berubah, sang Maharaja Dhaksa semakin percaya bahwa Siwa adalah sang Nilakanta  yang telah dinantikan kakek buyutnya ssampai dirinya sendiri sehingga nantinya akan membawa Meluha pada kejayaan mengalahkan kerajaan-kerajaan saingannya dan mempersatukan Bharata Warsa.

Untuk semakin mempererat koalisinya dengan sang Nilakanta,  maka Maharaja Dhaksa-pun mendukung sepenuhnya Siwa sang Nilakanta ketika ingin menikah dengan putri tunggalnya yang cantik jelita bernama Sati. Sebagai seorang putri mahkota, Sati merupakan seorang wanita dengan hati yangdingin terhadap lawanjenisnya termasuk pada Siwa. Sebenarnya putri Sati telah hidup menjanda sejak hampir 90 tahun yang lalu ketika suaminya tiba-tiba meninggal dan anaknya yang baru lahir meninggal pada hari yang sama. Sejak itulah putri Sati menjalani hukuman bernama Wikarma yang berupa hukuman pengasingan tidak boleh bergaul dengan orang-orang sekitarnya termasuk keinginan menikah lagi. Sebagai seorang warga Meluha yang patuh hukum, sang putri sangat patuh terhadap aturan tersebut. Nah, ketika ketemu seorang pemuda tampan dengan badan tegap dan otot kekar bernama Siwa sang Nilakanta, sang putri sebenarnya merasakan jatuh cinta, namun semua itu berusaha dilupakannya.

Kedatangan Siwa sang Nilakanta di kerajaan Meluha sendiri membuat semangat seluruh rakyat Meluha bangkit. Saat itu kerajaan ini sedang berperang dingin dengan saingannya yaitu kerajaan Ayodya, sebuah negeri tempat kelahiran Sri Rama.  Kerajaan Ayodya ini mempunyai pasukan dalam jumlah besar sehingga menjadi duri dalam daging bagi kerajaan Meluha. Melihat dukungan rakyat yang luar biasa, Maharaja Dhaksa-pun memanfaatkan keinginan Siwa sang Nilakanta memperistri putrinya dan menyetujui penghapusan hukuman bernama Wikarma. Pernikahan besar-besaran-pun dilakukan antara Siwa Sang Nilakanta dengan Putri Sati. Dalam waktu singkat, rakyat Meluha yang percaya pada ramalan sang Nilakanta  bisa mempin negerinya kemudian bersiap mengalahkan kerajaan Meluha.

Kelebihan Novel

Amish Tripathi sangat pandai memainkan psikologi para pembacanya untuk mengikuti alur cerita yang indah dan mudah diikuti. Disini kelebihan Amish sebagai seorang penulis yang jarang tandingannya. Sebagai seorang pemuja Siwa, ia sendiri dapat menyisipkan pengetahuan keagamaannya dengan santun dalam alur cerita sehingga dapat diterima dengan mudah. Disamping itu penggambaran keadaan geografis Bharata Warsa atau India kuno dengan mudah ia gambarkan sehingga mudah dicerna.

Disamping alur cerita yang mudah diterima, Amish mempunyai keberanian yang ;layak diacungi jempol ketika menggambarkan bagaimana Siwa adalah seorang manusia biasa dan karena Dharma nya untuk umat manusia sehingga diangkat menjadi Mahadewa.  Sungguh ini merupakan keberanian dari Amish Tripati. (Mansur)

Kekurangan Novel

Bagi para pembaca yang minim pengetahuan dan istilah terkait budaya India atau pengetahuan tentang agama Hindu agak lambat untuk memahami secara utuh penggambaran dari Amish.

1 thought on “SIWA : Kesatria Wangsa Surya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.