Situs Krai Sentono: Balada Pemujaan Syiwa Berubah Menjadi Makam Islam

Cagar Budaya

Situs Mbah Krai Sentono adalah peninggalan Cagar Budaya yang terletak di Desa Dusun Sentono Desa Krai Kecamatan Yosowilangun yang jaraknya sekitar 19, 5 kilo meter ke arah selatan kota Lumajang.

Oleh : Mansur Hidayat

Jarak situs ini dengan situs Candi Betari Durgo yang ada di Desa Kedungmoro Kecamatan Kunir diperkirakan letaknya sekitar 10 kilo meter ke arah barat kemudian dengan Situs Kunir Sentono Kecamatan Kunir terletak di pemakaman Desa sekitar 9 kilo meter.

Menurut laporan penelitian tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang dilakukan oleh  Titi Surti Nastiti dkk. pada tahun 1990-an di situs ini terdapat Arca Nandi dan Yoni yang terletak di halaman Ibu Sukarni. Arca Nandi diketahui keadaannya sudah sangat aus dan rusak dan digambarkan sedang mendekam dengan ekor melingkar ke sebelah kanan badannya. Bagian kepala sudah hilang dan bagian arca masih tertanam diatas tanah. Ukuran arca Nandi tersebut diperkirakan  mempunyai panjang 44 cm, lebar 33 cm dan tinggi 33 cm. Disamping arca Yoni tersebut juga terdapat Yoni yang terbuat dari batu andesit dengan ukuran, panjang 39 cm, lebar 39 cm dan tinggi 39 cm. Ukuran lubang tempat lingga 15 cm X 15 cm  dan dalamnya 25 cm. Panjang dan tinggi cerat adalah 14 cm. Disamping kedua obyek tersebut, terdapat sumur kuno dengan ukuran 1 meter X 1 meter. Sumur ini berbentu segi empat terbuat dari batu bata dengan ukuran panjang 34 cm, lebar 24 cm dan tebal 8 cm.

Laporan tim peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1990-an ini kemudian diperkuat oleh Laporan Kegiatan Verifikasi Cagar Budaya Kabupaten Lumajang yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur (sekarang BPCB Jatim) pada tahun 2012. Dalam laporan ini pihak BP3 Jawa Timur meng-inventarisir Yoni ini dengan nomor registrasi 30/LMJ/1992 dan Arca Nandi dengan nomer registrasi 31/LMJ/1992.

Dari berbagai referensi, kita mengetahui bahwa Yoni adalah  lambang Dewi Parwati atau Dewi Uma sedangkan Lingga menggambarkan pasangannya yaitu Betara Syiwa. Secara konsep dalam agama Hindu, Yoni melambangkan bumi  sedang Lingga adalah lambang api atau cahaya sebagai manifestasi kekuatan dan keuasaan. Bumi dan api adalah dua kekuatan yang bertentangan yang jika disatukan akan melambangkan energi atau kekuatan. Menurut arkeolog Junus Satrio Atmojo, Lingga dan Yoni dihubungkan dengan kehadiran Candi. Oleh karena itu adanya Lingga Yoni dan Arca Nandi di situs Krai Sentono ini dapat di duga pada masa dahulu terdapat candi pemujaan terhadap Betara Syiwa.

Situs Krai Sentono atau Mbah Sentono sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yang kemudian di serap menjadi bahasa Jawa kuna. Dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia karangan P.J. Zoetmulder, kata asthana berarti Balai pertemuan atau tempat di bagian dalam istana. Kata asthana ini dalam bahawa Jawa baru kemudian banyak berubah menjadi kata Sentana. Oleh karena itu Petilasan Mbah Sentono ini dapat diduga sebagai tempat pemujaan seorang pejabat lingkaran dekat istana yang mengurusi masalah percandian atau pemujaan Syiwa. Pada masa kerajaan Majapahit yang sejaman dengan kerajaan Lamajang Tigang Juru pejabat keagamaan ini dinamakan Dharmadyaksa Ring Kasyaiwan.

Menurut laporan para pegiat Cagar Budaya Lumajang sampai tahun 2014 keadaan situs ini masih alami sesuai dengan penggambaran dari para peniliti sebelumnya yang disebelah utaranya terdapat makam kecil dari tanah. Namun ketika tim MMC datang keadaan situs jauh berubah. Di ujung gang masuk ke situs terdapat gapura dari tiang besi dengan nama Pesarean Mbah Dibyo Diharjo Atau Mbah Kubro Sentono Watu. Gang masuk yang dahulu terbuat dari tanah, nampaknya sudah berubah lebih baik dengan adanya paving sehingga pengunjung bisa membawa kendaraannya dengan lebih nyaman. Masuk ke areal situs kita terdapat jembatan kecil sekitar 1-2 meter dan juga kemudian di areal situs sudah di paving dengan lebih rapi. Diujung areal situs ini terdapat makam yang sangat besar dinamakan Mbah Dibyo Diharjo yang dianggap sebagi pejabat muslim dari jaman yang lebih muda, Yoni yang sudah terigister oleh BPCB Jawa Timur sudah tidak ada ditempatnya dan arca Nandi kendaraan Betara Syiwa berada di pojok tersendiri. Nampaknya ada perkembangan yang lebih baik dibanding ketika tim MMC mengunjungi seminggu yang lalu. Dalam kunjungan tim Mas Mansoer Channel yang telah disiarkan dalam akun youtube-nya, arca Yoni dan lumpang batu tertutup oleh rerumputan sehingga menutupi arca Nandi dan watu lumpang, namun saat ini kondisinya  sudah dibersihkan dan pemandangannya lebih rapi.

Terkait batu Yoni yang juga sudah terigister nampaknya sudah tidak ada ditempatnya dan ketika ditanyakan kepada Ibu Sutami, warga yang rumahnya ada di depan areal situs, nampaknya benda Cagar Budaya tersebut sudah hilang hampir 10 bulan yang lalu. Terkait hilangnya Yoni tersebut, sebenarnya masyarakat sudah melapor kejadian tersebut kepada  Kepala Desa, namun sejauh ini belum ada tindak lanjut.

Menurut Kepala Desa Krai, Laili Sahril Mubarok dalam wawancara per telpon dengan tim MMC mengatakan bahwa di Makam Mbah Sentono (mengacu nama lama yang sudah dikenal) sebenarnya masyarakat Desa Krai telah terbiasa merawat peninggalan leluhur tersebut secara turun-temurun. Namun karena tidak adanya petunjuk dan sosialisasi dari pihak atasan (dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) maka pihak dan Desa dan masyarakat hanya bisa berjalan sesuai dengan pengetahuannya. Oleh karena itu ketika ada informasi tentang hilangnya watu lesong atau Yoni menurut Pak Kades banyak pendapat yang berseliweran. Ada yang percaya bahwa watu lesong tersebut akan datang sendiri sepertinya pernah terjadi puluhan tahun lalu dimana batu yang hilang tersebut kembali lagi, sedang yang tidak percaya mengatakan bahwa hal tersebut bisa melanggar syariat Islam. Pro kontra inilah yang menyebabkan pihaknya mengambil sikap pasif. Sementara itu Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Siswanto yang di dampingi 2 stafnya menyatakan bahwa memang hanya sebatas pemeliharaan saja karena ada kendala terkait masalah tanah. Pihak Dinas sendiri sejauh ini menyatakan bahwa belum menerima laporan dari pemerintah terkait hilangnya Yoni yang telah di register oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

  • Penulis : Mansur Hidayat
  • Reporter : Yoshi/Aji
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.