Peranan Perempuan Tengger dalam Pengelolaan Lingkungan

Resensi Buku

Judul Buku : Peranan Perempuan Tengger dalam Pegelolaan Lingkungan

Penulis : Yayuk Yuliati

Penerbit : Tunggal Mandiri Publishing

Oleh : Rina Rohmawati, Dosen Pengajar Sejarah Fakultas Pendidikan IPS Universitas PGRI Argopuro Jember

Peran adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan kedudukan.  Peran menentukan apa yang harus diperbuat seseorang bagi masyarakt serta kesempatan  apa yang diberikan masyarakat kepadanya. Peran lebih kental akan mengatur perilaku seseorang.   Hal ini merupakan  pengertian umum sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tidak diragukan lagi bahwa peran memiliki kekuatan dalam makna sehingga lebih kokoh dalam aplikasi  ketika di hubungka dengan peran perempuan. Peran perempuan mendapat banyak sorotan  dari para ilmuan, peneliti, penulis bahkan sosiolog.  Peran perempuan dapat dibidik dari berbagai macam sisi,sehingga karakter yang mucul bervariatif.

            Peran perempuan di Lereng Tengger dalam pengelolaan Lingkungan menunjukan bahwa perempuan sangat eksis di berbagai bidang dan peran. Selain sebagai ibu rumah tangga yang mengurus semua keperluan keluarga suami dan anak-anaknya, perempuan berperan penting dalam pengelolaan Lingkungan yaitu pengolahan lahan dan ladang garapan mereka sebagai sumber perekonomian mereka. Sebagai pemilik kebun yang merangkap sebagai pekerja kebun juga, sehingga mereka dalam pengelolaan ladang tidak sendiri melainkan bersama dengan para buruh kebun yang notaben nya bukan pemilik kebun. (Hasil wawancara dengan warga Tengger Bu Badio, pada 9 Oktober 2019)

            Semangat mereka dalam berkebun sangat hebat, sebab tak kenal suhu dingin atau berkabut tebal. Sangat kebal terhadap suhu dingin, sehingga di daerah tengger jarang ditemukan kamar mandi yang layak sebab memang suhu dingin yang membentuk mereka jarang mandi. Toilet sangat memprihatinkan bagi tamu atau pengunjung yang tidak terbiasa dengan area terbuka dalam aktifitas di toilet. Hal ini tak mengurangi rasa hormat mereka pada tamu atau kerabat yang sedang berkunjung kerumah mereka.

            Kondisi alam yang eksotis dengan ketinggian menembus awan yang bergelantungan di langit, menyebabkan kondisi wilayah bergunung dan berlembah. Menyebabkan banyak area perkebunan berada di tebing yang curam. Hal ini pun tidak menyurutkan para pekerja perempuan ini dalam mengolah lahan mereka. Tanpa alas kaki dan hanya bertudung kepala seperti menggunakan udeng, atau ikat kepala mereka semangat kerja. Tak jarang dari mereka yang membawa serta buah hati mereka yang masih balita dengan menggendong di punggung nya dengan selendang terbalut di bahunya. Sangat kuat dan hebat tak semua peran ini dimiliki oleh perempuan kecuali mereka masyarakat Tengger dan para perempuan penyelamat lingkungan.

            Budaya merupakan hal yang sakral dalam kehidupan sehari-hari Tengger. Perampuan dan laki-laki sebagai mahluk yang terlampau sering mendapatkan ritual budaya. Selain ritual penting keagamaan yang menjadi sebuah keharusan seperti : upacara Kasada, hari Raya Karo atau Pujan Karo, Pujan Kapat, Pujan Kaputi, Pujan Kawolu,Pujan Kasanga, dan Unan-Unan. Ada hal lain terkhusus adalah untuk perempuan pada saat perempuan hendak menikah, bahkan saat hamil ada yang namanya nelonin, mitonin (sayut) sebelum melahirkan hingga selesai melahirkan. Upacara cuplak puser dan kekerik, upacara Kuncung dan Tugel Gombyak untuk anak laki dan perempuan tujannya untuk membuang sial pada anak anak hingga mereka selamat sampai dewasanya. Serta upacara khusus untuk yang sudah meninggal dunia yaitu entas-entas. Ritualisasi yang membudaya dalam masyarakat ini tidak boleh ditinggalkan sebab ini merupakan bagian dari penghormatan, sebab mereka sangat takut dengan Sang Hyang Widhi, Petra dan walat. Artinya adalah Maha Agung, Para Arwah Leluhur dan Karmapala, jika mereka meninggalkan dan mengabaikannya ritual agama yang mereka yakin yaitu agama Hindu.

            Data peneliti tentang pengelolaan tanah atau penggunaan lahan dan hutan di Daerah Wonokitri, Argosari dan Ngadas tidak memiliki perbedaan mencolok. Peran perempuan dalam beberapa hal pun sama, seperti bercocok tanam, membersihkan gulma, memilih jenis tanaman dan waktu kerja dan lainya. Sangat terbeda oleh satu hal yaitu tentang hutan, hutan lebih didominasi oleh Laki-Laki. Hal ini karena laki-laki lebih tangguh dalam penjaga keamanan dari binatang buas dan dianggap lebih kuat. Sehingga perempuan lebih banyak memberikan peran tersebut pada kaum laki-laki.(yayuk yuliati, hlm. 95-97)

            Aktivitas perempuan tengger dalam kegiatan produksi tanam tidak banyak berbeda, hal yang membedakan adalah berat dan ringan pekerjaan itu. Misalnya, dalam pengolahan tanah laki-laki lebih berperan, sedangkan pada penanaman perempuan lebih banyak bergerak. Hal ini karena tenaga yang dikeluarkan tidak seberat ketika membuat saluran air atau petakan-petakan. Kaum perempuan lebih banyak terlibat pada nggejik (merupakan bahasa jawa yang maknanya melobangi tanahkayu yang telah di runcingkan), tanam, ndangir (merupakan bahasa daerah yang maknanya adalah menanam tanaman sesuai dengan tempat, serta lurus dengan batas tanam), mencangkulpun dikerjakan guna menyiangi rumput dan perawatan termasuk penyemprotan obat supaya terhindar dari hama serta penjagaan hingga panen tiba.Hal ini berlaku pada semua jenis tanaman selama musim tanam. Kerja sama ini terbangun erat, tanpa adanya protes satu sama lain. Hal yang hebat dari penulisan ini adalah para perempuan sangat legowo dengan perannya yang di terimanya. Semua jenis kerjaan yang berkaitan dengan pengolahan lahan dimulai dari persiapan tanam hingga panen perempuan memiliki peran serupa dengan kaum laki-laki.

            Dibandingkan dengan daerah pesisir atau daerah dataran rendah dengan jenis tanaman padi, atau tanaman jagung bahkan lainya, peran perempuan terbatas pada membantu proses penanaman, perawatan dan penjagaan hingga panen. Perempuan tidak mencangkul, tidak mengobat tanaman tetapi perempuan lebih pada membantu menanam serta menjada tanaman dari hama hingga musim panen tiba. Bahkan ada peran perampuan yang hanya bertugas menyiapkan makanan untuk para pekerja di sawah.

            Terlihat yang mencolok adalah medan dan lokasi yang berbeda antara dataran tinggi dan dataran rendah. Tentu tingkat kesulitan sudah nampak sekali, apa lagi udara yang sangat dingin. Ditambah lagi mereka perempuan masih harus membawa bayi mereka ikut bekerja. Umumnya mereka menempatkan anak anak mereka di rumah kecil atau yang sering disebut gubugyang terbagung persis di tengah atau daerah ladang.

            Daerah tengger sangat istimewa karena letak geografisnya, indah alamnya sejuk dan dingin udaranya sebab banyak hutan dan pegunungan yang menjulang. Karakter alam yang unik bergunung dan berlembah membentuk pribadi masyarakt nya pun unik lengkap dengan tradisi yang melahirkan berbagai budaya dari kepercayaanya. Ketaatan dan kesederhanaan membicarakan kodrat, menunjukan laki-laki sebagai tokoh kuat dan pemberani serta kepala keluarga dan perempuan sebagai istri melahirkan dan menyusui. Berbeda dengan tugas lain terkait dengan pekerjaan umum dalam hal ekonomi atau pemenuhan kebutuhan hidup masyarakt Tengger laki dan pereamuan memiliki kesamaan.

            Berasal dari pembacaan buku ini, yang menarik adalah menunjukkan  peran yang berbeda karena Tengger tidak membedakan pekerjaan pengelolaan dan pengolahan lahan, yang ini berbeda dengan daerah lainya semisal di daerah pertanian sawah dengan kebutuhan air tinggi serta daerah pesisiran yang laki laki sebagai nelayan sedang kan peremapuan sebagai pengolah hasil tangkap ikan.

Tengger unik dalam lingkup alam, dan perempuan Tengger unik karena perannya yang mampu menembus hampir seluruh aktifitas pengolahan dan pengelolaan lahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.