Pentingnya wilayah bernama Lamajang bagi Dua Kerajaan besar, Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singhasari

Sejarah SUARA REDAKSI

Lumajang adalah sebuah wilayah yang begitu penting dalam perjalanan sejarah sejak jaman kuno. Masa kuno yang dimaksud dapat ditelisik dalam cerita Babad Tantu Panggelaran yang meceritakan tentang terbentuknya gunung Mahameru atau gunung Semeru sebagai gunung tertinggi dan dianggap sebagai gunung suci di pulau Jawa karena dianggap sebagai tempat bersemayamnya Betara Syiwa.

Oleh : Mansur Hidayat

Babad Tantu Panggelaran itu sendiri dibuat pada sekitar abad ke-14 atau pada jaman Majapahit dengan banyak unsur dongeng-dongen kuno setempat yang dicampur dengan ajaran-ajaran agama Syiwa yang saat itu menjadi agama mayoritas di Nusantara. Dalam dongeng-dongeng yang berkembang di masyarakat, nama Lamajang sendiri berasal dari kata “Umah” dan “Hyang” yang artinya “tanah para Dewa”.

Dalam catatan sejarah, lereng timur gunung Semeru menyimpan kenangan tentang adanya perjalanan suci para tokoh dalam mencari “air suci” yang sampai sekarang dapat dilihat dalam Prasasti Ranu Kumbolo, sebuah prasasti yang bertuliskan adalah “Iing Dewa Mpu Kameswara Tirta Yatra” menceritakan perjalanan seorang raja Kediri bernama Dewa Mpu Kameswara melakukan perjalanan mencari air suci. Prasasti ini ditulis kira-kira pada tahun 1182 Masehi yang juga dikenal sebagai prasasti tertua di Kabupaten Lumajang.

Melihat adanya Prasasti Ranu Kumbolo yang ditulis oleh raja Kediri yaitu Kameswara pada sekitar tahun 1182 Masehi, dapat ditafsirkan bahwa perjalanan sang raja besar ini menjadi tonggak “Ziarah Suci” ke puncak gunung suci Mahameru yang biasanya ramai diikuti oleh masyarakat luas. Oleh karena itu pada abad ke-12 ini wilayah Lumajang telah dikenal luas sebagai wilayah suci karena adanya gunung suci Mahmeru. Demikian juga ada sebuah prasasti Tesirejo dari Desa Kertosari Kecamatan Pasru Jambe bertuliskan Candara Sengkala “Kaya Bhumi shasiku” atau tahun 1113 Saka atau 1191 Masehi menandakan daerah ini telah didiami oleh orang yang bisa membaca dan menulis yang saat itu hanya dikuasai oleh para Brahmana.

Kerajaan Singosari sendiri merupakan sebuah kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.Dalam catatan sejarah, Ken Arok ini merupakan seorang putra perempuan desa bernama Ken Endok yang tidak diketahui suaminya sehingga Ken Arok merupakan seorang anak laki-laki yang tidak mempunyai seroang Bapak. Pada saat masih muda Ken Arok menjadi seorang tokoh kriminal pencuri dan perampok, namun cita-citanya yang kuat telah menuntunnya untuk menjadi orang besar dalam perjalanan hidupnya di kemudian hari. Ken Arok kemudian dapat mengabdi di Akuwu Tumapel dan kemudian dapat merebut kekuasaan sang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung sekaligus mendapatkan istri sang penguasa Tumapel tersebut yang bernama Ken Dedes.

Dalam perjalanan waktu, Akuwu Ken Arok yang sudah tidak ingin menjadi bawahan kerajaan Kediri kemudian memanfaatkan pertentangan antara raja Kertajaya dengan para Brahmana saat itu. Seperti diceritakan oleh Babad Pararaton, Sang raja memerintahkan para Brahmana untuk tunduk kepadanya padahal ajaran Syiwa yang diyakini saat itu menyatakan bahwa kedudukan para Brahmana lebih tinggi dari Ksatriya atau para raja. Dukungan para Brahmana ini membuat masyarakat Kediri melawan sang raja dan lebih berpihak pada pra Brahmana. Puncak dari pertentangan tersebut, para Brahmana Kediri pun mengungsi ke Tumapel dan terang-terangan melawan perintah raja Kertajaya. Akhirnya dalam suatu pertempuran besar di Desa Ganter pada tahun 1222 Masehi, raja Kertajaya dapat dikalahkan oleh Akuwu Tumapel yaitu Ken Arok yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja kerajaan Singosari bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Setelah menjadi raja dengan dukungan para Brahmana tersebut, Sri Rajasa Sang Amurwabhumi-pun terus bersahabat erat dengan para Brahmana dan membangun kerajaan Singosari dengan dukungan kaum agama tersebut. Disamping agama Syiwa, di kerajaan Singosari kemudian berkembang agama Buddha sehingga masyarakat jaman Singosari dikenal sebagai penganut keyakinan Syiwa Buddha demikian juga raja-raja juga dikenal sebagai penganut ajaran tersebut. Dukungan besar terhadap dunia keagamaan terutama pada ajaran Syiwa menyebabkan gunung Mahameru mendapat penghargaan utama dari raja-raja Singosari. Hal ini tidak terlepas dari semangat untuk menyaingi para raja Kediri yang merupakan pesaingnya yang telah dulu melakukan perlakuan khusus terhadap gunung suci ini.

Pandangan kerajaan Singosari terhadap gunung Mahameru yang suci ini disertai dengan keadaan politik dalam negeri yang kondusif sejak terbunuhnya raja Tohjaya pada sekitar tahun 1249 Masehi menyebabkan raja penggantinya yaitu Nararya Sminingrat atau raja Wisnu Wardhana mulai memperhatikannya.  Berbicara gunung Mahameru sejak jaman dahulu tentu saja tidak bisa dilepaskan dari lereng sebelah selatan dan timurnya yang merupakan sebuah dataran rendah yang mudah menjangkau ke puncaknya maupun subur secara sumber daya alam. Jika kerajaan Kediri sekitar 150 tahun sebelumnya salah seorang rajanya yaitu Kameswara menjadikan gunung suci ini sebagai tempat ber- “Tirta Yatra” atau mencari “air suci” maka pada jaman raja Smningrat, gunung Mahameru bersama wilayah timurnya yang bernama “Lamajang” mulai dijadikan wilayah politik untuk menjaga keberadaan gunung suci tersebut.

Pada bulan tahun 1177 Saka, bulan Margasira, tanggal Pancadasi Suklapaksama (Wulu), U (manis), Bu (Dhawara), Julung atau kalau di alihkan ke Masehi menjadi Hari Manis, pada tanggal 15 Desember 1255 raja Smininrat mengeluarkan sebuah keputusan yang disalin dalam suah prasasti yang diberi nama “Mula Malurung” yang menjelaskan berbagai macam penghargaan dan pengangkatan para keluarga raja untuk menjadi “raja bawahan” atau Juru yang salah satunya adalah salah seorang putrinya bernama “Nararya Kirana” yang diangkat menjadi Juru di Lamajang. Pengangkatan Nararya Kirana yang merupakan putri sang raja Sminingrat sendiri menandakan wilayah ini sangat penting karena saat itu banyak negara-negara bawahan hanya diperintah oleh keponakan dan sepupu raja. Pengangkatan Nararya Kirana menjadi Juru atau raja bawahan di Singosari di Lamajang menjadi suatu keputusan penting karena sejak itu wilayah sebelah timur gunung suci Mahameru ini secara resmi diakui menjadi wilayah spiritual dan wilayah politik bagi kerajaan Singosari yang sangat penting untuk menopang dukungan dari masyarakat yang saat itu berkeyakinan Syiwa Buddha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.