Nararrya Kirana : Pemimpin Perempuan Era Lamajang Kuno

Budaya Lokal Sejarah

Sebuah tumpukan batu andesit dan batu bata kuno berserakan di areal persawahan perbatasan  Desa Kelapa Sawit dan Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Jalan menuju ke lokasi tersebut harus melalui jalan setapak dan melewati sungai.

Oleh : Retno Dumilah

Ketika ditelusuri lebih lanjut ternyata dilokasi tersebut tidak hanya ada sebuah tumpukan batu andesit dan batu bata saja, tak jauh dari tempat tersebut terdapat Lingga Yoni, sebuah artefak lambang kesuburan. Melihat kondisi sekitar yang penuh dengan sebaran batu-batuan yang ukurannya sangat besar, menunjukan bahwa lokasi di situs ini dulunya pernah disapu lahar Gunung Semeru. Mengingat letaknya yang berada di sebelah Tenggara Gunung Semeru, sangat memungkinkan jika lokasi situs tersebut diterjang lahar berkali-kali.

Situs tersebut oleh masyarakat sekitar dinamakan Candi Gedong Putri, dalam tradisi lisan masyarakat Candi Puro situs ini sangat erat kaitannya dengan seorang Putri yang cantik jelita. Menilik dari cerita tutur lisan masyarakat sekitar Candi Gedong Putri dulunya dihuni oleh seorang Putri. Jika dihubungkan dengan temuan di sekitar Situs yang begitu luas diperkirakan lokasi tersebut adalah sebuah kompleks pemukiman dan sebuah kota yang dipimpin oleh seorang perempuan.

Data sejarah yang memperkuat asumsi tersebut adalah adanya Prasasti Mula Malurung pada lempeng VII a baris 1-3 “sironararyya Kirana saksat atdmajanira nararyya sminingrat pinrastita juru lamajang, pinangsaken jagat palaka, ngkaning nagara lamajang” yang artinya Beliau Nararyya Kirana semata-mata Putra beliau Nararyya Sminingrat ditetapkan sebagai Juru di Lamajang, dipasangkan menjadi pelindung dunia. Prasasti ini berangka tahun 1255 M dan dibuat pada masa Raja Sminingrat dari Kerajaan Singhasari. Nama Nararyya Kirana identik dengan seorang wanita dan jika dikaitkan dengan toponimi dan tutur lisan masyarakat sekitar, memperkuat sebuah asumsi bahwa pada era itu Lamajang dipimpin oleh seorang perempuan. Pada era Jawa kuno perempuan sudah memiliki peran yang setara dengan laki-laki. Di bidang politik jabatan pemerintahan bisa diduduki oleh perempuan dan laki-laki. Kesempatan perempuan untuk menduduki sebuah jabatan sangat terbuka, dan tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan. Begitu juga pada era Kerajaan Singhasari, tidaklah tabu bagi Raja Sminingrat mempercayai putrinya untuk menempatkan putrinya menjadi Juru di Lamajang.  Nararyya Kirana adalah sosok penguasa perempuan pertama yang tercatat dalam sejarah Lumajang. Walaupun tidak banyak data sejarah yang menjelaskan mengenai sosoknya, Narariya Kirana merupakan perempuan pertama yang memimpin era Lamajang Kuno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.