Lingga Yoni Nagaraja Dirusak, Tujuh Pelaku Meninggal

Budaya Lokal Cagar Budaya Sejarah

Kawasan bekas ibu kota Lamajang Tigang Juru atau Adipati Putri Nararya Kirana yang telah diangkat menjadi penguasa di wilayah lereng timur gunung Mahameru pada 15 Desember 1255 Masehi.

Oleh : Mansur Hidayat – Ananda Kenyo

Kawasan ini terus menjadi Ibukota sampai kemudian dipindahkan sekitar tahun 1294-an oleh Arya Wiraraja di wilayah Ibukota baru bernama Arnon yang terletak di Kecamatan Sukodono atau sekitar 40 kilometer ke arah utara dari ibu kota jaman Nararya Kirana yang ada di Kecamatan Candipuro.

            Setelah tidak menjadi Ibukota utama, nampaknya kawasan bekas Ibukota Nararya Kirana ini terus berfungsi sebagai Ibukota kedua seperti yang disebutkan oleh Babad Pararaton  bahwa Kerajaan Lamajang Tigang Juru pada jaman Arya Wiraraja terdiri dari Lamajang Lor dengan ibu kota Arnon atau Kawasan Situs Biting sekarang ini dan Lamajang Kidul yang beribu kota di sekitar Candipuro atau ibu kota jaman Nararya Kirana. Kerajaan Lamajang Kidul ini masih terus disebut dalam Serat Bujangga Manik, sebuah catatan perjalanan spiritual yang ditulis pada tahun 1470-an oleh Bujangga Manik, seorang Brahmana muda dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang melakukan pengembaran mengunjungi tempat-tempat suci di wilayah Lamajang Kidul.  Kawasan bekas Ibukota ini nampaknya terus digunakan oleh para penguasa Lamajang Kidul yang masih beragama Hindu setelah Ibukota Lamajang Lor tidak dapat dipertahankan dari serangan Sultan Agung, seorang penguasa Kerajaan Mataram yang beragama Islam pada sekitar tahun 1620-an.

            Para penguasa Kerajaan Lamajang yang masih beragama Hindu yang berpusat di bekas wilayah ibu kota jaman Nararya Kirana ini terus bertahan sampai terjadi banjir bandang sampai terjadi banjir bandang yang menyapu daerah ini pada sekitar tahun 1600-an. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang dipimpin oleh Ibu Tuti Surti Nastiti pada tahun 1990, di wilayah bekas Kawasan Ibukota jaman Nararya Kirana yang oleh masyarakat disebut Candi Gedhong Putri ini terkena banjir dahsyat pada tahun 1600 dan kemudian juga tahun 1885, 1895 dan 1941. Oleh karena itu tidak mengherankan di wilayah ini banyak terdapat batu-batu vulkanik yang tersebar di hampir 5-7 kilometer persegi.

            Meskipun bentuk bangunannya sudah hancur dengan hanya menyisakan tumpukan batu bata dan sebuah Lingga Yoni Nagaraja yang sangat indah buatannya, namun keyakinan masyarakat untuk menghormati budaya pada leluhurnya masih sangat kuat di daerah ini.  Pada sebelum tahun 1970-an banyak masyarakat yang  tetap melakukan ritual-ritual budaya di Candi Gedong Putri maupun di sekitar bangunan Lingga Yoni Rajanaga. Jika ada seseorang yang sembuh dari sakit, sesorang yang terkabul keinginannya atau meraih kesuksesan biasanya mereka akan datang ke situs bersejarah ini. Hal ini sudah merupakan kebiasaan turun-temurun masyarakat sebagai warisan leluhurnya.

Pada tahun 1965 terjadi prahara politik di tanah air dengan terjadinya peristiwa penculikan 6 Jenderal Angkatan Darat yang kemudian berujung pada pemberhentian Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia digantikan oleh Jenderal Suharto. Pada jaman awal Orde Baru ini banyak kebudayaan dan kebiasaan lokal turut dihancurkan dan dituduh sebagi sisa-sisa G30 S/PKI. Di pulau Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat, ada kebudayaan dan ritual Islam bernama Islam Wektu Telu yang oleh pendukung Orde Baru diintimidasi dan dipaksa menjalankan ritual Islam pada umumnya, di Kecamatan Gumuk Mas Kabupaten Jember ada sebuh peninggalan bersejarah bernama Candi Deres yang juga ikut dihancurkan karena banyak masyarakat masih melakukan kebiasaan lokal yang turun-temurun. Demikian juga di Kecamatan Candipuro Lumajang pada akhir tahun 1980-an terjadi perusakan pada Lingga Yoni Nagaraja tersebut.

            Perusakan ini dilakukan oleh tujuh orang yang mendapat restu dari pemuka agama. Tujuan dari aksi perusakan ini adalah ingin memberi contoh kepada masyartakat supaya jangan percaya kepada ritual jaman nenek moyang. Ke tujuh orang ini kemudian membawa peralatan berupa cangkul maupun sekop untuk merusak Lingga Yoni tersebut. Oleh karena perusakan ini, maka hiasan kepala naga pada Lingga Yoni ini mengalami kerusakan.  Keesokan harinya setelah merusak Lingga Yoni tersebut, ternyata ketujuh orang tersebut menderita penyakit aneh-aneh dan berujung meninggal dunia. Semenjak itu warga masyarakat Candipuro dan sekitarnya masih tetap menghormati peninggalan leluhurnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.