Komplek Pemujaan Sang Batara Syiwa, Dulu Disucikan Sekarang di Terlantarkan

Cagar Budaya Sejarah SUARA REDAKSI

Dalam catatan sejarah, timbul tenggelamnya suatu kerajaan di Nusantara biasanya didukung para agamawan  sebagai sebuah kelompok yang mempunyai pengaruh penting bagi masyarakat.

Oleh : Mansur Hidayat

Kita bisa melihat bagaimana raja Airlangga menyelamatkan diri dan bahkan kemudian naik tahta karena dukungan kaum Brahmana di hutan-hutan. Demikian juga jika kita melihat perlawanan kaum agamawan yang ada di kerajaan Kediri terhadap raja Dandang Gendis (Kertajaya) yang kemudian ramai-ramai mengungsi dan mencari suaka politik ke Tumapel dan berpuncak dengan berkuasanya Ken Arok menggantikan raja Kediri tersebut. Begitu juga sewaktu Nararya Sanggramawijaya menjadi pelarian dan menjadi buronan Prabu Jayakatwang yang menggantikan Prabu Kertanegara, Putra Dyah Lembu Tal ini kemudian dibantu oleh Adipati Sumenep Arya Wiraraja yang menurut Babad Manik Angkeran dari pulau Dewata merupakan keturunan Brahmana dari garis Mpu Bharada.

Sukses duet politik Nararya Sanggramawijaya dan Arya Wiraraja ini menjadikan keduanya sebagai penguasa terkuat di tanah Jawa. Nararya Sanggramawijaya menjadi raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardana sedangkan Arya Wiraraja kemudian menjadi penguasa di negeri selah timur Majapahit bernama Lamajang Tigang Juru. Dalam pemerintahan keduanya,  masing-masing mempunyai ciri khas yang berlainan. Kertarajasa Jayawardhana sebagai seorang raja yang saat itu berusia sekitar 30-an mempunyai ambisi politik selayaknya penguasa muda yang cenderung memperkuat negaranya dengan kekuatan militer, sedang Arya Wiraraja yang saat berkuasa di Lamajang Tigang Juru berusia 64-an tahun cenderung back to basic dengan memperkuat kewibawaan spiritual dan keagamaan. Pemilihan negeri bernama Lamajang Tigang Juru yang membawahi wewenang untuk menjaga gunung Mahameru yang dianggap suci merupakan daya tarik tersendiri bagi penguasa keturunan Brahmana ini. Oleh karena itu, konsep kekuasaan wilayahnya tidak lepas dari konsep negara keagamaan yang diidamkannya. Memang tidak ada jejak prasasti atau babad yang menyebutkan hal ini, namun melihat jejak rekam mantan penguasa Sumenep yang sudah teruji di medan politik dan medan perang dengan puncak pengusiran tentara Mongol Tar Tar pada tahun 1293 sebenarnya ia mempunyai kesempatan dan peluang untuk terus melebarkan kepak-kepak sayap kekuasaannya.  Namun hal ini tidak dilakukan oleh Arya Wiraraja, bahkan putra-putranya yang berkualitas lebih diperbantukan pada Kertarajasa dan kerajaan Majapahit yang sedang menggeliat dalam dunia kemiliteran tersebut. Kita bisa melihat salah satu putranya Mpu Nambi menjadi Maha Patih di Majapahit sedang Ronggolawe menjadi Adipati Tuban yang merupakan pelabuhan utama kerajaan baru tersebut. Nampaknya juga meninggalnya Ronggolawe, putra tercintanya pada tahun 1295 menjadikan penguasa Lamajang Tigang Juru ini semakin teguh mendalami dunia keagamaan.

Dalam masa pemerintahannya di duga Arya Wiraraja banyak membangun dan memperkuat basis kegamaan di wilayah kekuasaannya Lamajang Tigang Juru. Hal ini dapat dilihat dari jejak-jejak peninggalan yang ada di lereng timur Mahameru. Di Kaki gunung Mamameru sebelah selatan kita mendapati sebuah jejak peninggalan berupa Candi Jawar dengan prasasti Gerba-nya di daerah wilayah Dampit dan Ampel Gading, Malang selatan yang secara tradisional dihubungkan dengan Mpu Nambi yang bahasa dan tulisannya menurut peneliti Pak Sukarto Atmojo sangat dekat dengan  24 batu bertulis peninggalan Brahmana Syiwa di Kecamatan Pasru Jambe Kabupaten Lumajang. Memang semua prasasti tersebut ditemukan dari abad-15 Masehi atau 2 abad setelah jaman Arya Wiraraja, namun ingatan masyarakat terhadap Mpu Nambi dapat menjadi petunjuk tentang asal muasalnya.

Disamping dukungan besar terhadap agamawan atau Brahmana yang hidup lebih independen jauh di pegunungan, setiap kerajaan biasanya mendirikan kawasan pemujaan dekat ibu kota yang dipimpin oleh para Brahmana kerajaan. Pada saat itu pemimpin keagamaan yang mewakili kerajaan di bagi 2 yaitu Dharmadyaksa Ring Kasaiwan untuk kalangan agama Syiwa (Hindu) dan Dharmadyaksa Ring Kasogatan untuk agama Budha. Kaum agamawan ini biasanya memimpin upacara dan ritual acara-acara resmi kerajaan. Kawasan percandian dan pemujaan yang ada di Kunir ini di duga sebagai kawasan pemujaan dan pemukiman para pejabat keagamaan di Lamajang Tigang Juru

Dalam beberapa penelitian dan survey oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1990-an, demikian juga Balai Arkeologi Yogyakarta ditemukan jejak-jeka arkeologi di wilayah Kunir dan sekitarnya yang termasuk Kabupaten Lumajang. Penemuan Arca Nandi dengan Dusun Reco Banteng-nya di Desa Dorogowok, penemuan Lingga Yoni di kuburan Sentono Kunir Lor, adanya bekas Candi yang dijadikan sekolah SD Inpres di Kunir Lor, adanya Lingga Yoni dan Arca Nandi di Desa Krai (masuk Yosowilangun), penemuan bekas Candi yang oleh masyarakat Desa Kedung Moro (pecahan Desa Dorogowok) yang dinamakan Betari Durgo dan ada jejak-jejak batu bata kuno berserakan di Desa yang sama yang oleh masyarakat dianggap bekas Candi.

Peninggalan di wilayah Kunir dan sekitarnya ini nampaknya sesuai dengan isi Babad Deca Warnana atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Babad Negara Kretagama yang ditulis oleh Dang Acraya Nadendra atau Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi. Pada saat raja besar Majapahit Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada berkesempatan mengunjungi kerajaan Lamajang yang saat itu masih menyimpan bara api peperangan panjang sejak penyerangan Mpu Nambi dan ibu kota Arnon pada tahun 1316 Masehi sampai peperangan di Sadeng dan Keta pada tahun1331 Masehi. Peperangan panjang ini telah menimbulkan bara api Majapahit- Lamajang selama 43 tahun lamanya yang oleh raja Hayam Wuruk hendak diredamnya. Perjalanan sang raja Majapahit ke Lamajang ini pada dasarnya adalah perjalanan politik untuk mengunjungi tempat-tempat suci dan keagamaan. Kunjungannya di Kunir dan beberapa tempat di pantai selatan Lamajang dapat menujukkan bagaimana sang raja ingin merangkul tokoh-tokoh agama baik Syiwa maupun Buddha di wilayah lereng timur gunung suci Mahameru ini.

Perjalanan raja Hayam Wuruk mengunjungi Kunir ini terdapat dalam Babad Negara Kretagama Pupuh 22 ayat 4 yaitu:

Ringenjingahawan Kunir Basini saksana dhatengi sadheng sira megil, pirang wengi kuneng lawas nira jenek mamengamengi sarampwa nanglengong, ri sah nira wawang teke kuto bacok narapati nawilasa ring pasir, jenek lumihating kurang kinasuting ryyakasirasira tanghirib jawuh

Yang artinya:

“Pagi harinya menuju Kunir Basini segera tiba di sadeng dan bermalam, entah berapa malam Baginda asyik bercengkerama menikmati keindahan alam di sarampuan, sepeninggalnya Baginda raja tidak lama tiba di Kota Bacok lalu bersenang- senang di pantai, asyik memperhatikan karang yang tersiram gelombang berpencaran akibat hujan.”

Dari keterangan dalam Babad Negara Kretagama ini kita akan mencoba untuk menginvestigasi dan menginventariasi berbagai peninggalan yang ada di bekas kawasan pemujaan Syiwa di wilayah Kunir yang terlupakan sehingga tak banyak generasi muda tahu betapa pentingnya daerah ini untuk legitimasi politik sebuah kerajaan di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.