Kisah Maling Aguno Menculik Putri Bangsawan Cantik Jelita

Dongeng

Tersebutlah di suatu tempat bernama Candipuro ada seorang gadis yang cantik jelita, putri seorang bangsawan atau penguasa setempat yang kaya raya. Karena kecantikannya putri tersebut tidak hanya dikenal di wilayahnya, namun sudah dikenal di seantero negeri sampai di manca negara. Disamping terkenal cantik jelita, putri tersebut juga dikenal sebagai gadis yang baik hati dan ramah pada siapapun termasuk rakyatnya.

Oleh : Mansur Hidayat

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, sang putri semakin bertambah kecantikan maupun kebaikannya pada sesama sehingga menjadi buah bibir pembicaraan rakyatnya baik yang di pasar – pasar, di sawah – sawah petani sampai di hutan – hutan para pertapa. Semua membicarakan kecantikan dan kebaikannya. Jangankan pemuda, orang-rang tua yang mempunyai anak-anak laki – laki dewasapun sibuk membicarakan kecantikan sang putri tersebut. Di lain pihak, para bangsawan dan para raja sibuk membicarakan bagaimana sang putri di kelak kemudian hari dalam memilih suami. Semuanya baik rakyat, bangsawan dan raja bahkan para Brahmana Resi-pun menunggu bagaimana akhir drama perjodohan bagi sang putri.

Setelah menginjak dewasa, sang ayahpun mulai memperhatikan perkembangan anak gadisnya yang tumbuh semakin dewasa dan menunjukkan kewanitaannya. Setelah berumur cukup, maka sang ayahpun kemudian mengumumkan sayembara bahwasanya sang bangsawan sedang memilih jodoh untuk anak gadisnya yang cantik jelita tersebut. Syarat dari sayembara tersebut tidak sulit, namun membuat hati para pemuda yang kurang kokoh pendirian bisa mundur pelan – pelan. Sang ayah mengumumkan bahwa siapapun orangnya baik laki – laki maupun perempuan berhak mengikuti sayembara ini. Jika lak – laki akan dijadikan menantu dan jika perempuan akan dijadikan saudara bagi sang putri dengan syarat bisa mengalahkan para penjaganya yang dipimpin oleh seorang raksasa Bhairawa untuk melindungi keberadaan istananya.

Mendengar ada sayembara tersebut, ratusan orang dari kalangan rakyat jelata maupun para bangsawan mengikuti sayembara yang sangat menantang ini. Tidak mengherankan jika dilapangan istana Candipuro tempat sang putri tersebut banyak para pemuda hilir mudik mendaftarkan diri. Mereka kemudian harus menghadapi tantangan para penjaga istana bangsawan tersebut yang dipimpin oleh seorang raksasa Bhairawa yang besarnya seperti arca Bhairawa di gerbang Singosari. Menghadapi para penjaga sakti yang pemimpinnya seorang Bhairawa seperti induk gajah tersebut, banyak pemuda yang ikut sayembara yang terluka, patah tulang bahkan gugur di medan laga. Namun semua ini tidak menyurutkan semangat yang  lain untuk maju mengalahkan penjaga dan raksasa Bhairawa tersebut.

Syahdan di wilayah selatan Lumajang, tersebutlah seorang pemuda tampan yang pandai olah kanuragan maupun ilmu kebatinan. Dalam kesehariannya pemuda tampan ini senang belajar ilmu olah batin dan kanuragan sehingga kemampuan ilmunya berada diatas rata – rata  teman sebayanya. Budi pekertinya sangat baik dan bahkan ia sangat terketuk hatinya jika mendengar seseorang menderita dan mengalami kemiskinan. Setelah lama belajar di Kasogatan Buddha yang ada di pesisir selatan, sang pemuda kemudian hidup bertani.  Dalam kesehariannya ia melihat keadaan rakyat yang keadaannya sangat miskin namun dilain pihak para bangsawan hidup bergelimang harta. Melihat ketimpangan tersebut muncul desakan dari batinnya untuk membantu masyarakat miskin tersebut. Sebagai pemuda dan petani yang tidak mempunyai harta, modalnya hanya ilmu kesaktian maupun kemauan baik. Oleh karena itu sang pemudapun kemudian melakukan pencurian dan perampokan kepada para bangsawan kaya dan hasilnya dibagikan pada masyarakat miskin. Tidak mengherankan jika dipagi hari buta di rumah – rumah bilik rakyat miskin  di dalam rumahnya tiba – tiba ada uang emas yang tidak ternilai harganya.  Hari demi hari dan bulan menjadi tahun, pemuda tampan yang menjadi “Maling Aguno” ini menjadi buah bibir dikalangan rakyat miskin. Mereka secara sembunyi – sembunyi  mendukung dan mendoakan keselamatannya.

Pada suatu hari sang “Maling Aguno” tersebut mendengar adanya seorang gadis bangsawan yang cantik jelita sedang di sayembarakan oleh orang tuanya. Ia pun semakin mempergiat olah kanuragan ditambah bertapa selama 40 hari 40 malam di “Goa Bima”, sebuah goa keramat tempat para Dewa memberikan restu dengan memberi ilmu kesaktian pada seseorang yang giat bertapa. Setelah berbulan bulan melakukan tapa brata, ia pun kemudian menghadap pada sang Pendeta pimpinan Kasogatan Buddha dimana sejak kecil ia hidup disana. Sang Pendeta pun kemudian merestui keinginan sang Maling Aguno tersebut. Setelah mengamati keadaan istana dan Kaputren tempat sang putri berada, sang Maling Aguno yang ahli dalam ilmu kanuragan melihat betapa banyaknya raksasa Bhairawa penjaganya. Dirinya tidak mungkin dapat mengalahkan para penjaga dan raksasa Bhairawa tersebut dan kalaupun dipaksakan, bisa – bisa dirinya menjadi korban seperti para pemuda yang selama ini menjadi sasaran empuk sang penjaga dan raksasa Bhairawa tersebut. Sebagai seorang maling atau pencuri yang berpengalaman, satu – satunya jalan adalah mengadakan penculikan dengan jalan “ngerong” atau menggali lobang untuk menuju istana dan Kaputren tempat sang putri berada. Hal pertama yang dilakukan oleh Maling Aguno adalah menggali lobang dari jarak kira-kira 3 kilo meter sebelum tembok dan gerbang istana bangsawan tersebut. Terowongan di galinya sampai jauh melewati gerbang sehingga ia pun langsung berada di dalam kawasan Kaputren tempat sang putri tinggal. Namun sang Maling Aguno masih menyangsikan jika nanti terlihat oleh para penjaga dan raksasa Bhairawa sehingga kemungkinan melarikan sang putri sangat kecil. Oleh karena itu, sang Maling Aguno-pun mulai menebar “Ajian Sirep” yang kemudian mampu menidur pulaskan seluruh isi istana dan Kaputren termasuk para penjaga dan sang raksasa Bhairawa yang sangat sakti tersebut.  Sang Maling Aguno-pun dengan mudah menculik sang putri yang sedang tertidur pulas disamping Mbok Emban yang menjaganya.  Keesokan harinya seisi istana dan Kaputren geger dikarenakan ternyata sang putri telah hilang di culik oleh “Maling Aguno”. Yang tersisa hanyalah lobang sejauh 3 kilometer yang dipakai jalan untuk melarikan diri. Setelah beberapa lama diculik, sang bangsawan-pun menerima kekalahan dirinya terhadap sang Maling Aguno dan dengan terbuka menerimanya menjadi menantunya. Sejak saat itu rakyat di Candipuro ini hidup sejahtera karena Maling Aguno beserta istrinya yang cantik selalu memperhatikan kesejahteraan rakyat.  Sebagai catatan, hari ini “Goa Bima” masih dapat dilihat di sekitar pantai Dhampar Desa Bades Kecamatan Pasirian dan “Goa Maling Aguno” dapat kita saksikan berada dibelakang pasar Candipuro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.