Kalahkan Arya Wiraraja, Sosok Nararya Kirana Terpilih Menjadi Ikon Hari Jadi Lumajang

Sejarah

Kalau berkunjung ke kota Lumajang sekarang ini, kita akan banyak mendapati nama Arya Wiraraja di berbagai sudut kota yang dipajang di berbagai macam gerai toko pakaian sampai celuler, minimarket sampai perumahan elit, taman kota sampai nama Pendopo tempat tinggal resmi Bupati Lumajang.

Oleh : Mansur Hidayat

Namun publik tidak sadar bahwa secara resmi berdirinya kota Lumajang atau yang akrab disebut Hari Jadi Lumajang tidak bisa dilepaskan dari sosok bernama Nararya Kirana. Lantas bagaimana kok bisa sosok Nararya Kirana bisa mengalahkan Arya Wiraraja yang sudah tidak asing lagi di kota Lumajang?.

Pada masa kepemimpinan Bupati Syamsi Ridwan sejak tahun 1988 ada sebuah semangat baru untuk mengegolkan sebuah program besar yaitu mencari dan menetapkan sebuah “Hari Jadi” bagi Kabupaten Lumajang. Awal dari penggalian Hari Jadi Lumajang ini mendasarkan pada hasil sidang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat II Lumajang pada tanggal 1 Januari 1989. Penemuan hari jadi ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat sampai Bupati Lumajang. Pada saat itu penggalian sejarah dan hari jadi Lumajang dianggap penting begitu penting dikarenakan sampai saat itu Kabupaten Lumajang yang menurut cerita lisan dapat disebut kota yang tua belum ada ketentuan resmi dalam kaitan hari lahirnya kota di lereng timur gunung Semeru tersebut.

Salah satu lembaga yang awalnya dipercaya untuk menggali cerita dan sejarah cikal- bakal berdirinya kota Lumajang adalah Pusat Kegiatan Hukum dan Masyarakat (PKHM) dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jenderal Sudirman, sebuah lembaga pendidikan tinggi bidang hukum yang kemudian menunjuk untuk melakukan seminar tentang sejarah Lumajang. namun para pimpinannya sangat konsern terhadap masalah kesejarahan. Seminar terkait dengan Hari Jadi Lumajang kemudian diadakan pada tanggal 25 Januari 1989. Seminar yang diadakan oleh STIH Jenderal Sudirman itu mendatangkan nara sumber Drs. H. Joko Sulistiyo dengan pembanding seperti Bapak Sularso yang merupakan seorang pengamat sejarah klasik di Lumajang saat itu maupun Bapak Sutaji yang merupakan mantan pegawai Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang. Dalam seminar ini telah bulat di setujui bahwa kedatangan Arya Wiraraja di bhumi Lumajang pada tahun 1295 dianggap sebagai tonggak maupun titik tolak berdirinya sejarah Lumajang karena dapat memberikan semangat kepahlawanan bagi kota Lumajang, namun seminar ini gagal memutuskan tanggal dan bulan berdirinya Lumajang. Pada saat itu sebenarnya kembalinya Arya Wiraraja ke Bhumi Lumajang ini mampu mengalahkan usulan-usulan lainnya seperti raja Kameswara, Nararya Kirana sampai pada momen berdirinya Regentschaap Lumajang pada 1 Januari 1928 karena dianggap Nederland Sentris dan tidak nasionalis.

Oleh karena belum ada kesepakatan maka pada tanggal 28 September 1989 diadakan diskusi panel dengan peserta terbatas yang khusus untuk membahas masalah tanggal dan bulan berdirinya Lumajang berkaitan dengan kedatangan Arya Wiraraja. Dalam diskusi ini dibuat naskah tunggal dari KH Amak Fadholi dari STIH Jenderal Sudirman. Dalam seminar kedua ini diusulkan beberapa pilihan tanggal terkait berdirinya kota Lumajang yaitu, pertama tanggal 1 Januari 1295 karena tanggal tersebut diambil sesuai dengan keputusan DPRD Lumajang untuk menggali hari jadi-nya. Kedua adalah tanggal 25 Januari 1295 karena tanggal tersebuat adalah berkaitan dengan dilakukannya seminar pertama dan hasilnya memutuskan tahun kedatangan Arya Wiraraja ke Bhumi Lumajang. Dua keputusan ini kemudian diusulkan kepada Bupati Lumajang untuk ditetapkan, namun nampaknya pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Lumajang masih belum yakin untuk menetapkan tanggal tersebut. Oleh karena itu Bupati Lumajang kemudian meminta bantuan pihak Balai Arkeologi Yogyakarta untuk melakukan penelitian dan membuat diskusi atau seminar terkait hari jadi Lumajang.

Seminar kedua dilakukan Pada tanggal 14 Mei 1990 dengan nara sumber para peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta seperti Bapak Gunadi Notohaminoto, Bapak Abdul Chalik Nawawi dan Bapak Sukarto MM. Atmojo. Dalam diskusi tersebut pembicara pertama yaitu Bapak Gunadi Notohaminoto lebih menyoroti secara umum kondisi Lumajang pada masa awal dan mengangkat Desa- desa kuno sebagai sebuah kota di awal berdirinya Lumajang di masa yang lampau. Pembicara kedua yaitu Bapak Abdul Chalik Nawawi yang merupakan putra asli Lumajang juga mengusulkan kedatangan Arya Wiraraja ke Bhumi Lumajang seperti yang diusulkan oleh seminar sebelumnya. Karena memang tidak ada tanggal yang pasti, maka ia mengusulkan bahwa Arya Wiraraja akan membangun sebuah ibu kota atau istana berdasarkan “Hari Baik” dan menurut tafsirannya adalah hari Kamis Legi Wuku Landep tanggal 26 Agustus 1294. Pembicara ketiga adalah Bapak Sukarto MM., Atmojo seorang peneliti dan ahli Epigrafi atau pembaca prasati kenamaan saat itu.

Dalam pembahasan mengenai penentuan Hari Jadi Kabupaten Lumajang tersebut, Sukarto MM. Atmojo kemudian mengupas atu per satu tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah Lumajang berdasarkan Prasasti sebagai tulisan yang paling dekat dan akurat terhadap suatu peristiwa. Ada beberapa tokoh yang menjadi kajiannya yaitu pertama adalah raja Kameswara dari Kediri yang telah meninggalkan sebuah prasasti di Ranu Kumbolo yang diperkirakan pada 1182 Masehi. Kedua adalah Nararya Kirana yang diangkat menjadi Adipati Lamajang oleh ayahnya raja Sminingrat dari kerajaan Singosari pada tahun 1255 Masehi.  Ketiga adalah Raden Wijaya sebagai raja Majapahit dan memberikan tanah bagian pada Arya Wiraraja pada tahun 1293. Keempat adalah Arya Wiraraja yang datang di Lumajang setelah tahun 1293. Kelima adalah Mpu Nambi seorang putra daerah Lumajang yang kemudian menjadi seorang Maha Patih Majapahit dan kemudian gugur membela kehormatan Lumajang pada tahun 1316. Dalam kajiannya, Sukarto MM. Atmojo mengatakan bahwa jasa dan kepahlawanan Arya Wiraraja bagi kerajaan Majapahit dan Lamajang tidak terelakkan dan sangat besar. Namun penentuan hari kelahiran suatu daerah tidak bisa dilakukan hanya menurut cerita kepahlawanannya, namun lebih ditekankan “waktu” yang jelasbaik tanggal maupun bulan dalam membentuk pemerintahan. Akhirnya setelah dipertimbangkan dengan seksama maka di usulkan nama Nararya Kirana  yang berdasar Prasasti Mula Malurung diangkat oleh ayahnya raja Sminingrat dari kerajaan Singosari pada tanggal 15 Desember 1255 Masehi. Akhirnya tanggal pengangkatan Nararya Kirana menjadi Juru atau Adipati Lamajang ini diresmikan sebagai Hari Jadi Lumajang dengan catatan simbol kepahlawanan Lumajang selayaknya tetap menggunakan Arya Wiraraja yang memang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Namun ketokohan raja Kameswara dan peranannya dalam  membentuk pemerintahan di Lumajang belum bisa dijadikan dasar terhadap hari kelahiran Lumajang karena tidak banyak peranan tokoh tersebut terhadap cikal- bakal Lumajang.

1 thought on “Kalahkan Arya Wiraraja, Sosok Nararya Kirana Terpilih Menjadi Ikon Hari Jadi Lumajang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.