Jalan Terjal Candi Desa Kedungmoro: Nama Belum Sepakat, Pelestarian Belum Maksimal

Cagar Budaya

Siang itu dengan menapaki jalanan yang sunyi dengan kanan kiri pepohonan dan persawahan yang menghijau, tim MMC berangkat dari kota Lumajang ke arah selatan menuju Desa Kedungmoro yang jaraknya sekitar 10 kilo meter.

Oleh : Mansur Hidayat

Dari Balai Desa Kedung Moro tim masih terus melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju situs bersejarah Candi Kedungsari/Candi Betari Durgo. Letak Candi ini sebenarnya tak jauh dari jalanan beraspal yang kebetulan kira-kira 100 meter ada di belakang rumah penduduk.

Dalam laporan Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 2016, situs yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Candi Betari Durgo oleh tim peneliti disebut sebagai Candi Kedungsari luasnya adalah 6,5 X 6,5 meter dengan relief batu bata indah dan berbagai macam ornamen seperti bentuk gana, gajah, kuda maupun sulur-pohon sehingga perlu untuk diteliti lebih jauh sehingga dapat mewakili keberadaan candi yang utuh bagi Kabupaten Lumajang. Disamping bentuknya yang indah, candi tersebut diperkirakan mempunyai latar belakang begitu penting sehingga sempat dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk dalam perjalanannya mengelilingi wilayah Lamajang pada tahun 1359 Masehi.

Adapun temuan-temuan yang ada di lokasi candi ini adalah:

Pertama adalah relief perwujudan arca Betari Durga setinggi 46 cm dan lebar 21 cm yang di ukir di atas batu bata merah yang kemudian di revisi menjadi temuan Gana yaitu sosok mahkluk Kayhangan. Kedua adalah relief arca kuda setinggi 18 cm dan lebar 25 cm yang lengkap dengan pelananya.  Hal ini diperkirakan menandakan adanya binatang kuda yang sudah dimanfaatkan saat itu baik untuk kepentingan upacara, transportasi atau perang. Ketiga adalah relief genta setinggi 19 cm dan lebar 19 cm Genta sendiri merupakan alat kelengkapan upacara dalam ritual agama Hindu.Keempat adalah temuan relif gajah yang sedang mendekam yang ditemukan belakang pada saat penggalian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada bulan Agustus 2016.  Biasanya pintu masuk menuju Candi yang diapit oleh 2 buah hiasan gajah, sehingga diperkirakan ini adalah gerbang menuju Candi induk yang belum ditemukan. Disamping relief batu bata yang diukir dengan sangat halus, batu bata di candi ini ukurannya lumayan besar dengan panjang 35 cm dan tebal 25 cm. 

Berkaitan dengan luasan candi yang ada di Desa Kedungmoro ini, sejarawan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono mengatakan keberadaan candi ini harus diletakkan pada konteks temuannya apakah ditemukan situs-situs baru sebagai pendukung candi tersebut. Biasanya sebuah candi tidak berdiri sendiri, ada candi induk dan candi perwara, pintu gerbang dan termasuk juga jejak-jejak pemukiman masyarakat pendukung candi tersebut.  Oleh karena itu candi ini penting untuk di teliti lebih dalam apakah bisa dikatakan komplek percandian atau cuma sebatas candi tunggal, jika ada situs pendukung yang jaraknya kurang dari 1 kilo meter maka masih bisa disebut sebagai komplek percandian dengan unsur-unsur pendukungnya.

Melihat pentingnya candi di Desa Kedungmoro ini, tim MMC kemudian mengadakan survey dan penelusuran. Dalam kunjungan ini kami membayangkan bagaimana Candi Kedungsari/Candi Betari Durgo yang menurut data-data yang kami dapatkan merupakan sebuah Candi Perwara yang strukturnya terdiri dari batu bata merah dengan relief yang indah  dan garapannya halus berdiri dengan kokoh dan indah setelah ditemukan hampir 8 tahun yang lampau. Namun nampaknya bayangan kami masih jauh panggang dari api karena ternyata yang disebut Candi Kedungsari/Candi Betari Durgo sekarang ini keadaannya hanya tumpukan batu bata tidak teratur yang ditumpuk begitu saja. Diatas batu bata tersebut terdapat sebuah asbes untuk melindunginya dari panas dan hujan.

Menurut Mulyono (55 tahun) pegiat Cagar Budaya Desa Kedung Moro yang 8 tahun lalu menjadi pimpinan para pemuda yang bersedia menemani kami untuk melihat Candi tersebut, keadaannya sekarang tidak terawat dan seolah terabaikan. Beberapa waktu setelah ditemukan kira-kira sekitar tahun 2014-an di candi ini pernah berdiri tiang dari bambu dengan atap dari genting sekedar untuk melindunginya, namun ketika tiang penyangga bambu tersebut roboh tidak pernah ada lagi  yang menggantikannya. Menurutnya Pemerintah Kabupaten Lumajangdalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan seolah tidak menghiraukannya, baik program yang bersifat rutin maupun kegiatan sekedar mengenalkan dan men-sosialisaikan keberadaan candi tersebut ke anak-anak sekolah maupun masyarakat wisata.

Terkait kondisi Candi Kedungsari/ Betari Durgo ini Kepala Seksi Perawatan Balai Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Muhammad Ikhwan menyatakan bahwa Candi ini mempunyai aristektur dan keindahan ragam hias yang indah dan halus garapannya. Pada masa yang lalu diperkirakan wilayah ini adalah komplek pemujaan meski sampai sekarang belum ditemukan yang lain.  Disamping itu  kunjungan raja Hayam Wuruk ke wilayah Kunir pada tahun 1359 Masehi seperti tertera dalam Babad Negara Kretagama dapat memberi makna betapa pentingnya candi ini. Lebih jauh arkeolog tersebut menyatakan bahwa Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur beberapa bulan yang lalu telah mendatanginya untuk mengecek sejauh mana pelestariannya. Oleh karena itu pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang untuk melakukan langkah-langkah pelestarian yang terkoordinasi bersama pihaknya.

Sementara itu berkaitan masalah penamaan candi, menurut pegiat cagar budaya desa Kedungmoro Mulyono menyatakan terdapat perbedaan antara masyarakat dengan para peneliti. Masyarakat sekitar Candi sejak awal menamakan situs ini adalah Candi Betari Durgo dikarenakan daerahnya dahulu merupakan bagian dari Desa Dorogowok yang identik dengan Betari Durgo, disamping peninggalan disebelah dusunnya berupa arca Nandi yang merupakan kendaraan Betara Syiwa yang merupakan suami dari Betari Durgo. Disamping itu salah satu relief yang ada di batu bata candi ada yang berupa relief bergambar wanita yang awalnya oleh masyarakat dianggap Betari Durgo. Oleh karena itu masyarakat sekitar Candi merasa prihatin karena tiba-tiba nama Candi tersebut berubah sesuai dengan selera para peneliti yaitu Candi Kedungsari.

Terkait penamaan candi Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lumajang, Siswantoyang dihubungi oleh tim MMC menyatakan bahwa penamaan Candi Kedungsari sesuai dengan nama dusun karena hasil penelitian kami (Tim Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) Jawa Timur menyesuaikan tempat/lokasi supaya Dusunnya lebih terkenal, sedangkan Betari Durgo, belum punya bukti secara otentik yang kuat.

Sementara itu arkeolog dan peneliti senior yang juga mantan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Drs. Andi Muhammad Said, M.Hum menyatakan seorang peneliti tidak boleh semena-mena dalam memberi nama terhadap temuan baru. Ia harus mempunyai dasar dan referensi untuk memberi nama kecuali dia menemukan temuan yang mengarah kepada nama yang akan diberikan. Jika penamaan itu berasal dari masyarakat harus tetap di FGD-kan dahulu terkait  nama apa yang paling melekat di masyarakat. Lebih jauh Andi Said mengatakan bahwa nantinya jika ada peneliti yang membawa refrensi hasil penelitian orang dan kemudian bertanya pada masyarakat mereka  tidak mengenalnya karena tidak tahu nama tersebut.Menurutnya akan lebih bijak jika peneliti membicarakan dan duduk bersama dengan tokoh-tokoh masyarakat disekitar situs tersebut untuk memberikan nama yang disepakati bersama-sama.

  • Penulis : Mansur Hidayat
  • Reporter : Kenyo/Leo
  • Editor : Oren

4 thoughts on “Jalan Terjal Candi Desa Kedungmoro: Nama Belum Sepakat, Pelestarian Belum Maksimal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.