Candi Pemujaan Hindu di Lamajang Tigang Juru, Berdasar Temuan Cagar Budaya

Cagar Budaya Sejarah

Berbicara tentang Candi seolah tak dapat dipisahkan dengan jaman kerajaan Hindu Buddha yang ada di Indonesia. Di mulai sejak adanya pemberitaan dari Prasasti Canggal berangka tahun 732 Masehi dimana raja Sanjaya mendirikan sebuah bangunan suci yang dinamakan Syiwalingga  atau yang sekarang dikenal dengan nama Candi Gunung Wukir.

Oleh : Mansur Hidayat

Setelah ini kemudian berturut-turut pada tahun 760 Masehi raja Gajayana mendirikan sebuah bangunan indah untuk menghormati ayahnya yang bernama Dewasingha dan Maha Resi Bhawana yang sekarang diperkirakan sebagai Candi Badut yang bersifat Hindu. Demikian juga pada tahun 778 Masehi berdiri sebuah kuil besar untuk menghormati Dewi Tara oleh raja Panangkaran yang sekarang dinamakan Candi Kalasan. Demikian juga pada tahun 842 Masehi disebutkan pendirian sebuah kuil besar beragama Buddha aliran Mahayana yang diperkirakan oleh raja Samaratungga dan diperbaiki oleh putrinya yang bernama Pramoddawardhani. Dalam Prasasti Sri Kahulunan disebutkan kuil besar itu adalah “Sima ning Kamulan I Bhumisambhara” yang sekarang menjadi dasar penamaan “Borobuddur”.

Disamping percandian yang ada di Jawa Tengah dari kerajaan Mataram, kita kita juga banyak mewarisi candi-candi dari kerajaan Kediri seperti Candi dan Petirtaan Belahan dari tahun 1059 Masehi yang diidentikkan dengan raja Airlangga, dari kerajaan Singosari mulai dari Candi Kidal yang dikatakan sebagai pen- dharmaan raja Anusapati , Candi Jago yang merupakan pen- dharmaan raja Wisnu Wardhana, Candi Singosari dan Candi Jawi yang identik dengan pendermaan raja Kertanegara. Candi dari kerajaan Singosari ini berasal dari abad ke-13. Candi dari jaman kerajaan Majapahit seperti Candi Simping yang identik dengan raja Kertarajasa Jaya Whardana, Candi Bhayalango yang identik dengan putri Gayatri, Candi Palah atau Penataran, Candi Jabung yang identik dengan Bhre Gundal dan masih banyak lagi lainnya yang berasal dari abad ke-14. Di Jawa Barat, sisa-sisa percandian meliputi Candi Cangkuang di Garut dan Candi Jiwa di Karawang. Sedangkan untuk di Sumatra ada Komplek pecandian besar peninggalan kerajaan Melayu Dharmasraya yaitu Candi Muaro Jambi yang berasal dari abad ke-7 dan juga Candi Gunung Kawi yang didirikan oleh raja Udayana dari Dinasti Warmadewa di Gianyar Bali.

Fungsi Candi

Secara garis besar ada 2 macam dasar keagamaan bagi pembangunan Candi yaitu yang bersifat Syiwa atau Hindu dan candi yang bersifat Buddha. Namun terkait dengan fungsi candi masih terjadi perdebatan diatara para ahli. Pada awal penelitian yang dipelopori oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814 dengan diketemukannya sebuah candi yang besarnya seperti bukit yang kemudian di sebut sebagai Borobudur yang dianggap sebagai sebuah cungkup atau makam bagi para raja. Pendapat dari Thomas Stamford Raffles ini berasal dari laporan seorang arkeolog bernama Wardenar kemudian diamini oleh banyak arkeolog seperti Van Hoevell, Brumund, Groeneveldt, Stutterheim maupun Coedes, namun hal ini ditolak oleh Sukmono  dalam disertasinya berjudul “Candi: Fungsi dan Pengertiannya” berdasarkan penelitiannya di Jawa dan Pura- Pura yang ada di Bali dan tidak menemukan abu penyimpanan jenazah  sehingga candi didirikan untuk kuil pemujaan. Penelitian ini juga dilandasi oleh asal usul nama Candi menurut J. Krom seorang ahli arkeologi Belanda. Candi sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta yang kemudian sudah berasimilasi dengan bahasa Jawa kuna. Asal kata candi sebenarnya berasal dari Candika yang merupakan nama Betari Durga sebagai Dewi kematian atau Candikagrha dan Candikalaya yang merupakan penamaan kuil yang di khususkan pada Batari Durga.

Sebenarnya terdapat cara memecahkan persoalan ini dengan pola membaca atau mengelilingi relief yang ada pada candi dimana kalau membaca dan memberi penghormatan dari kanan ke kiri yang disebut Pradaksina maka candi tersebut dianggap dibuat untuk pemujaan pada Dewa. Jika membaca relief dan memberi penghormatan dari kiri ke kanan yang disebut Prasawya maka candi tersebut dibuat utuk pen- dharmaan atau makam. Namun ini biasanya tidak memecahkan masalah karena ada bebera hal yang menjadi kendala seperti kerusakan di sana-sini sehingga reliefnya tidak utuh.

Tentang candi dianggap sebagai makam, Brumund mendasarkan penelitiannya berdasarkan perawatan bagi mayat. Pertama adalah Pancaka sebagai tempat pembakaran khusus yang abunya di bakar. Kedua adalah Melarung dimana abu mayatnya dibuang ke laut dan yang ketiga adalah Nyetra yang meletakkan di Pasetran atau hutan. Penelitian ini kemudian dibenarkan oleh Groeneveldt  yang menyatakan terdapat kebiasaan mengabadikan seorang raja yang sudah meninggal dengan arca dimana arca ini menggambarkan Dewa khusus yang merupakan panutan raja yang meninggal. Disamping itu biasanya wajah arca disesuaikan dengan roman sang raja. Penelitian perbandingan juga dilakukan Coedes terhadap Candi-candi di Kamboja dimana terdapat beberapa kesimpulan yaitu pertama seorang raja membuat candi untuk mengagungkan Dhrama dengan membuat patung Lingga Dewa dan juga membuat sari ke-rajaan- nya sendiri dan setelah meninggal maka candi tersebut dijadikan tempat penyimpanan abu atau makamnya. Dalam babad Negara Kretagama dan Pararaton, raja Hayam Wuruk menyatakan bahwa telah merawat berbagai candi pen- dhermaan kakek moyangnya seperti di Kidal, Jajagu, Singosari, Simping, Banyalago atau yang dikenal sebagai Pradnya Paramita Puri sampai Sajabung. Sedang babad Pararaton juga menyatakan raja Ken Arok candikan di Kagenengan.

Perdebatan ini tidak harus membuat kita bingung karena ini akan menjadi dasar kita mempelajari berbagai macam candi yang telah menjadi obyek penelitian para ahli maupun bagi kita yang ingin mengadakan penelitian terhadap obyek-obyek candi di sekitar. Berkaitan dengan peninggalan berupa candi di Kabupaten Lumajang sangatlah minim dan tidak satupun yang masih utuh. Rata-rata candi yang ada di Lumajang kondisinya sudah rusak berat seperti bekas candi yang ada di Kawasan Situs Biting yang sudah tidak berbentuk karena diatasnya ditanami sengon, Candi Agung di Desa Randu Agung yang tinggal fondasi dan kaki candinya, demikian juga Candi Betari Durgo yang merupakan candi yang baru diketemukan di Desa Kedungmoro Kecamatan Kunir.

Dari ketiga Candi, bekas candi yang ada di Kawasan Situs Biting tidak menyisakan bekas sama sekali kecuali serpihan batu bata. Namun jika mengacu pada situasi dan latar belakang kerajaan Lamajang Tigang Juru candi tersebut lebih mengarah pada pemujaan Syiwa atau Hindu. Candi Agung yang menyisakan fondasi semata, namun dari data penggalian jaman Hindia Belanda tahun 1941 terdapat arca Ganesha maka dapat dikatakan bersifat Syiwa atau Hindu. Dan Candi Betari Durgo yang ada di Desa Kedungmoro dari berbagai relief batu-batanya ada yang berupa Bajra yang merupakan peralatan upacara agama Syiwa maka dapat dikelompokkan sebagai Candi bersifat Syiwa atau Hindu.

Dari ketiga candi yang diketemukan di Lumajang, nampaknya yang paling sulit adalah menentukan bekas candi yang ada di Kawasan Situs Biting karena belum diketemukan relief atau bentuk apapun namun sudah terlanjur rusak. Jika di Candi Agung, dengan diketemukannya arca Ganesha dan tidak adanya arca perwujudan dari seorang tokoh atau raja maka dapat diduga bahwa candi tersebut lebih mengarah pada candi pemujaan. Demikian juga di Candi Betari Durgo yang ada di Desa Kedungmoro berdasarkan temuan Bajra dan tidak diketemukannya arca perwujudan tokoh atau raja maka candi ini lebih mengarah kepada Candi Pemujaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.