Arca Nandi Kendaraan Batara Syiwa, Dipotong Tiga Bagian dan Dimasukkan WC

Cagar Budaya Sejarah

Desa Dorogowok nama resminya namun menurut masyarakat namanya adalah Durgowok adalah sebuah desa kuno yang masih ada sampai sekarang dan menurut masyarakat setempat namanya diambil dari toponim Betari Durgo. Artefak ini sekitar 500 meter letaknya dari Candi Betari Durgo yang ada di Dusun Kedungsari, Kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada sekitar tahun 2000-an desa ini dipecah 2 menjadi Desa Dorogowok dan Kedungmoro. Selain toponim yang sama dengan nama istri Betara Syiwa, Desa ini juga meninggalkan jejak-jejak kekunoan berupa Candi dan Arca Nandi yang sampai tahun 1990-an tetap di hormati masyarakat.

Salah satu peninggalan bersejarah di Desa Kedungmoro terletak di Dusun Reco Banteng yang berbatasan langsung dengan Desa Kali Wungu yang ada disebelah baratnya. Nama Reco Banteng ini nampaknya mengacu pada sebuah nama yang cukup legendaris dan masih diingat masyarakat yaitu Arca Nandi atau Reco Sapi dan yang lebih dikenal menjadi Reco Bantengyang menjadi ikon wilayah ini saat itu.

Dalam survey Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Kabupaten Lumajang pada tahun 1990-an disebutkan bahwa di kebun Bapak Nursalim terdapat Arca Nandi dalam keadaan sangat aus dan rusak. Nandi saat itu digambarkan sedang mendekam dengan ekor melingkar ke arah kiri badannya, kepalanya telah hilang dan lapiknya sudah patah. Arca tersebut berukuran panjang 51 centi meter, lebar 37 centi meter dan tinggi 30 centimeter. Tim Mas Mansoer Channel beberapa waktu yang lalu sempat melakukan penelusuran ke wilayah ini di dampingi oleh Bapak Mulyono (55 tahun) yang merupakan pegiat Cagar Budaya Kedungmoro yang lahir di Desa Kaliwungu sehingga tahu betul bagaimana cerita tentang keberadaan arca yang dihormati oleh masyarakat tersebut.

Dalam penelusuran ini, tim Mas Mansoer Channel sampai di tengah kebun dan menemukan bekas bangunan dengan 4 tiang penyangga dari batu bata yang atapnya sudah rusak. Menurut penuturan Bapak Mulyono, bangunan ini adalah bekas tempat Arca Nandi atau Reco Banteng  yang kini sudah dihancurkan. Pada sekitar tahun 1980- 1990 an masyarakat Desa Dorgowok sendiri (waktu itu Desa Kedungmoro masih menjadi bagian Desa Dorogowok) sangat menghormati arca tersebut. Jika Jum’at manis banyak masyarakat yang datang untuk membawa sesajian. Apalagi suatu ketika ada masyarakat yang ternak sapinya sakit, kemudian diberi kesembuhan setelah memberi sesajian di arca tersebut, maka semakin banyak masyarakat mengunjungi dan memberikan sesajian. Oleh karena banyak yang jodoh ternaknya bisa sembuh, maka semakin banyak pengunjung yang datang tidak hanya di Desa Dorogowok dan sekitarnya namun juga menjangkau desa-desa yang lebih jauh.

Pada sekitar tahun 2000-an melihat ramainya kunjungan masyarakat apalagi memberikan sesajian pada arca tersebut, maka beberapa pemuka masyarakat tidak mau hal ini semakin berkembang. Mereka takut bahwa hal ini menyebabkan masyarakat semakin jauh dari jalur agama. Oleh karena itu ada seorang tokoh (tidak disebut namanya) kemudian melakukan penghancuran Arca Nandi yang merupakan peninggalan bersejarah tersebut. Arca Nandi yang memang tidak mempunyai kepala tersebut kemudian di potong menjadi 3 bagian dan kemudian di masukkan ke WC. Hilangnya arca Nandi tersebut kemudian tidak serta merta menjadikan masyarakat lupa akan peninggalan bersejarah yang dihormati. Seorang sesepuh Desa yang dianggap sebagai para normal senantiasa memberikan sesajian dan merawat tempat tersebut. Namun ketika sang para normal itu telah meninggal, maka bangunan bekas Arca Nandi tersebut menjadi tidak terawat.

  • Penulis : Mansur Hidayat
  • Repoter : Yoshi
  • Editor : Oren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.