Tradisi Perlawanan Para Brahmana: Dari Melawan Majapahit, Mataram Sampai VOC Kumpeni Belanda

Sejarah

Banyak cerita kehidupan para Brahmana ini dapat dilihat dari beberapa peninggalannya biasanya berupa tulisan-tulisan kuno, prasasti, maupun alat-alat upacara kuno.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam prasasti – prasasti kuno maupun kepustakaan sastra nusantara disebutkan adanya pembagian kekuasaan seperti kekuasaan politik yang dipegang oleh para raja yang di dukung dinastinya, kekuasaan ekonomi yang didukung oleh orang – orang  kaya dan kekuasaan keagamaan yang dipegang oleh para Brahmana yang didukung oleh masyarakat luas. Hal ini dikarenakan dalam keseharian biasanya para Brahmana ini tidak turut serta dalam mengatur pemerintahan sehingga lepas dari kepentingan politik dan lebih dekat dengan masyarakat pinggiran yang biasanya miskin.

Dalam prasasti – prasasti  yang dikeluarkan oleh raja Airlangga, diceritakan tentang pelariannya di lereng gunung penanggungan  dan daerah Lamongan sekarang. Saat itu tahun 1019 Masehi, Pangeran Airlangga yang berusia sekitar 18 tahun harus melarikan diri membawa istrinya dikarenakan pada saat pesta perkawinannya terjadi “Maha Pralaya” atau pembunuhan besar-besaran disebabkan adanya serbuan raja Wura Wari dan menyebabkan mertuanya yaitu raja Dharmawangsa gugur. Dalam masa pelarian ini Pangeran Airlangga harus bersembunyi dilereng pegunungan Penanggungan dan juga hutan-hutan Lamongan yang saat itu masih lebat. Sang Pangeran kemudian mendapat dukungan para Brahmana dan juga masyarakat pinggiran yang miskin sehingga mampu merebut kembali keuasaan dari raja Wura Wari tersebut.

Peran para Brahmana atau para pemuka agama ini dapat dilihat juga dalam cerita peperangan antara Ken Arok yang merupakan Akuwu (Bupati) Tumapel yang berperang dengan raja besar Kediri yaitu Kertajaya pada 1222 Masehi. Pada masa pemerintahan raja Kertajaya ini sebenarnya kerajaan Kediri sedang kuat – kuatnya  karena keadaan ekonomi yang maju maupun pasukannya yang sangat kuat. Namun dalam perjalanannya seperti yang diceritakan dalam Babad Pararaton raja Kertajaya terlalu percaya diri dan ingin menempatkan diri sebagai penguasa tunggal tanpa  memperdulikan berbagai masukan dari para Brahmana yang biasanya jadi penasehat bahkan menginginkan para Brahmana itu tunduk dan jadi pengikutnya. Akibat dari arogansi terhadap para Brahmana tersebut, mereka kemudian menyingkir beramai-ramai ke wilayah Tumapel dan mendukung gerakan penggulingan raja Kertajaya yang dianggap sudah melewati batas. Oleh karena para Brahmana ini dekat dengan rakyat pinggiran, dekat dengan kaum miskin yang rela mati demi perintah kaum pemuka agama ini maka tumbanglah kekuasaan raja Kertajaya dalam pertempuran besar di desa Ganter.

Dalam perpindahannya menjadi raja Lamajang Tigang Juru pada sekitar tahun 1294-an, Banyak Wide atau yang dikenal sebagai Arya Wiraraja yang pindah dari Sumenep berperan sebagai “Pandita- Ratu” yang dalam hal ini bisa diterjemahkan sebagai raja yang merangkap sebagai pendita atau pemuka keagamaan. Kepindahan sang Arya Wiraraja ini sebenarnya adalah untuk menjaga kesucian gunung Mahameru atau Semeru yang saat itu menjadi pusat ritual dan ziarah dari berbagai kalangan. Oleh karena itu Arya Wiraraja kemudian membangun banyak komplek percandian seperti di kratonnya, komplek percandian di Kunir maupun Mandala atau asrama pendidikan besar dan Karesiyan yang bersifat Hindu di lereng gunung Semeru dan Mandala bersifat Buddha di pesisir selatan. Perlu di ketahui bahwa Arya Wiraraja sangat menghormati para Brahmana maupun Bhiksu karena menurut Babad Manik Angkeran dari Bali Banyak Wide dilahirkan dari keturunan Brahmana yang kakek moyangnya bisa berujung pada Mpu Baradha. Sepeninggal Arya Wiraraja, peperangan besar Lamajang Tigang Juru dengan Mapajahit pada masa Maha Patih Nambi p[ada tahun 1316 Masehi telah menimbulkan kehancuran total bagi kerajaan Lamajang Tigang Juru yang bercorak spiritual tersebut. Ibu kota Arnon dengan benteng pertahanan yang kokoh ditinggalkan dan para pengikut setianya kemudian melarikan diri kearah gunung Mahameru atau Semeru meminta perlindungan dari para Brahmana dan bertahan di pegunungan Semeru yang susah dicapai untuk selalu lepas dari pengaruh Majapahit.

Pada akhir masa kerajaan Majapahit terjadi perang besar berkepanjangan antara kerajaan Majapahit Barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana dan kerajaan Majapahit Timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi. Perang besar ini kemudian disebut “Perang Paregreg” yang berlangsung sejak tahun 1401-1406 Masehi. Peperangan ini sangat berpengaruh di wilayah yang saat itu menjadi hegemoni Majapahit terutama banyak wilayah Majapahit barat yang menemui kehancuran. Dalam dongeng “Menak Koncar” dari Lumajang seperti yang disebutkan dalam buku “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru: Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur” disebutkan sang Adipati melarikan diri keluar dari ibu kotanya yang berbenteng kuat menuju ke arah barat ke wilayah lereng gunung Semeru dan meninggal disana. Dalam masa pelarian ini para pengikut setai Menak Koncar mendapat perlindungan dan dukungan dari para Brahmana seperti dapat dilihat dari peninggalan Kemucak atau tempat tiang bendera ditambah tulisan yang berbunyi “Akhuta Rajasa” yang artinya dilindungi atau dibentengi oleh pohon – pohon raksasa berangka tahun 1408 Masehi atau 2 tahun pasca Perang Paregreg. Kemucak ini sendiri menunjukkan tempat tinggal bangsawanan yang juga dilindungi oleh para Brahmana karena sedang bersembunyi.

Kehidupan para Brahmana di pegunungan Semeru ini dapat dilihat dari peninggalannya berupa sekitar 24 Prasasti yang berangka tahun 1459 Masehi dan 1469 Masehi yang isinya menceritakan kehidupan para Brahmana disertai dengan nama Maha Gurunya seperti Bagawan Cutra Gotra dan Bagawan Caci. Demikian juga ada ada gambar alat – alat upacara seperti Yantra dan juga simbol 8 penjuru angin simbol para Dewa. Dalam Babad Bujangga Manik  yang ditulis dalam bahasa Sunda sekitar tahun 1470-an disebutkan adanya Manda Kukup di Mahameru yang menjadi Asrama pendidikan terbesar dan menjadi salah satu tujuan utama para siswa belajar keagamaan. Melihat dari bahasa prasasti yang berbau pinggiran, dapat diduga bahwa asrama pendidikan di Pasru Jambe tidak berhubungan dengan pusat kerajaan dan menjadi semcam budaya tandingan.

Dalam kisah selanjutnya seperti diceritakan dalam Babad Tanah Jawi dapat juga dilihat bagaimana perlawanan  Adipati Lumajang yang tergabung dalam koalisi “Bang Wetan” bersama Adipati Surabaya ketika melawan hegemoni kerajaan baru bernama Mataram. Di bawah pimpinan Sultan Agung. Adipati Lumajang yang saat itu diduga masih beragama Hindu setelah mengdakan perlawanan sengit melarikan diri keluar ibu kotanya “Renong”. Perlu diketahui pada jaman Arya Wiraraja pada tahun 1300-an kerajaannya bernama Lamajang Tigang Juru dengan ibu kota bernama Arnon sedang pada tahun 1600-an sudah berganti menjadi kerajaan Lumajang dengan ibu kota bernama Renong. Pada masa penaklukan Lumajang oleh Sultan Agung oleh Senopatinya bernama Tumenggung Alap Alap terjadi pembunuhan besar – besaran dan pemboyongan wanita – wanita Lumajang ke Mataram. Oleh karena itu Adipati yang masih beragama Hindu tersebut kemudian bertahan di pegunungan Semeru yang dilindungi benteng alam yang curam dan terjal. Oleh karena itu budaya Hindu di wilayah sekitar Kecamatan Senduro, Gucialit, Pasru Jambe dan Pronojiwo masih cukup kental.

Menurut sejarawan Universitas Gajah Mada Dr. Sri Margana ketika Untung Suropati hendak menguasasi Timur Jawa dengan menyerang pusatnya di Pasuruan pada tahun 1690-an, Adipati Lumajang mengadakan perlawanan dan kemudian seperti kebiasaan lama mereka kemudian mengungsi ke pegunungan Semeru yang terjal untuk meminta perlindungan parea Brahmana. Namun Untung Suropati yang kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Wironegoro ini tidak melakukan peperangan dengan kaum Brahmana di pegunungan Semeru yang dimungkinkan karena dia sendiri diperkirakan berasal dari Bali. Dalam masa pemerintahan Cucu Untung Suropati yaitu Kartonogoro yang kemudian menjadi Bupati terakhir Lumajang sebelum masa VOC Kumpeni, hubungan dengan para Brahmana di pegunungan Semeru dan kerajaan di Bali berlangsung lebih hangat. Dalam Disertasinya, Dr. Sri Margana menjelaskan ketika Bupati Kartonogoro melawan VOC Kumpeni pada tahun 1767-an, Ia membangun perbentengan terakhirnya di kawasan Tengger pegunungan Semeru  dan ketika kalah dalam peperangan tersebut ia melarikan diri ke pegunungan Semeru yang tentu saja saat itu masih dikuasai oleh para keturunan Brahmana. Dalam pelariannya ke Semeru, Bupati Kartonogoro juga disertai salah seorang perwira Bali bersama pasukannya yang bernama Wayan Kutang. Dari beberapa fakta tersebut diperoleh suatu gambaran tentang kehidupan para Brahmana di kaki gunung Semeru yang terjal dan curam, namun disaat – saat penting dapat memberikan bantuan berharga bagi para penguasa yang sedang kalah dalam berperang. Budaya para Brahmana gunung Mahameru atau Semeru yang sudah terbangun secara mandiri berabad – abad lamanya membuat mereka tetap eksis secara budaya dan kepercayaan leluhurnya seperti yang kita bisa lihat dewasa ini di Kecamatan Senduro, Pasru Jambe, Gucialit dan Pronojiwo.

5 thoughts on “Tradisi Perlawanan Para Brahmana: Dari Melawan Majapahit, Mataram Sampai VOC Kumpeni Belanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.