Sardjo Atmo Suryo Kusumo: Dari Pejuang, Pengabdi Negara Sampai Pengabdi Agama

Tokoh

Sardjo Suryo Atmo Kusumo adalah pria kelahiran Desa Senduro Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Propinsi Jawa Timur pada sekitar tahun 1922.

Oleh : Mansur Hidayat

Sarjo kecil dikenal sebagai anak yang pemberani sehingga disekolahkan oleh ayahnya sampai kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) yang merupakan sekolah cukup tinggi bagi warga kebanyakan.

Pada masa Hindia Belanda, Sarjo muda bekerja di perkebunan kapas di Desa Sari Kemuning, Kecamatan Senduro dan kemudian ketika pemerintahan Dai Nippon menduduki Indonesia pada tahun 1942 ia kemudian dipindahkan ke perkebunan di daerah Kabupaten Probolinggo. Sarjo muda hanya beberapa bulan saja bekerja di Probolinggo karena ia kemudian merasa tidak betah dan mengundurkan diri dengan alasan sakit sehingga pulang ke Lumajang. Namun para pengawas Jepang curiga atas kepulangan Sarjo muda tersebut sehingga sempat di datangi kerumahnya di Desa Senduro. Dalam kunjungannya ke rumah Sarjo, pengawas Jepang kemudian ditemui ayah dari Sarjo yang mengatakan bahwa anaknya sedang demam di kamar. Melihat kesungguhan ayahnya Sarjo tersebut, maka sang pengawas Jepang tersebut kemudian pulang dan percaya atas sakitnya Sarjo.

Proklamasi 17 Agustus 1945 yang telah berkumandang di seantero bumi pertiwi menyebabkan para pemuda bersemangat untuk memperjuangkan sang jabang bayi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebuah negara yang didirikan dengan dasar “Bhineka Tunggal Ika” dan dipimpin oleh bangsa Indonesia sendiri yaitu Bung Karno dan Bung Hatta. Sarjo muda dengan kawan-kawan se- desanya pun kemudian mendirikan laskar “Panji Wulung” yang beroperasi di daerah Senduro. Pada saat Belanda melakukan Agresi Militer Belanda I dan kemudian menduduki Kabupaten Lumajang pada 22 Juli 1947, berbagai strategi kemudian dilakukan. Sarjo muda yang memang tenaga berpengalaman di bidang perkebunan bertugas untuk menjadi pegawai perkebunan Belanda sambil mencari info ataupun logistik bagi kawan-kawan seperjuangannya. Akhirnya Sarjo muda mendapat pekerjaan sebagai Sekretaris Onderneming (Perkebunan) kopi di Desa Pasru Jambe.

Ketika berugas menjadi Sekretaris Onderneming (Perkebunan) Kopi milikBelanda di Pasru Jambe ini, Sarjo muda bisa melakukan 2 tugas, pertama adalah memberi informasi tentang segala kegiatan Belanda baik militer maupun ekonomi dan kedua menyumbang logistik bagi kawan-kawan seperjuangannya. Pada saat menjadi pegawai perkebunan inilah Sarjo muda kemudian menikah dengan seorang gadis Madura dari Dusun Pelambang Desa Pasru Jambe. Setahun kemudian ia kemudian mendapatkan putra pertama laki-laki bernama Bambang.

Ketika Agresi Militer Belanda II pada akhir Desember 1948 keadaan militer Belanda di Lumajang mendapat serangan bertubi-tubi dari para pejuang.  Kekuatan perjuangan saat itu di bagi dalam beberapa sektor, Kompi Suwandak memimpin di sektor utara di wilayah Klakah, Ranuyoso dan Randuagung, Kompi Sukertyo memimpin di wilayah timur yaitu Jatiroto, Rowokangkung dan Yosowilangun, Kompi Kamari Sampurno beroperasi di wilayah Padang dan Gucialit, Kompi Abdul Jalal beroperasi di wilayah Pasirian dan Pronojiwo dan Kompi Slamet Wardoyo beroperasi di wilayah Pasru Jambe sebagi pengendali utama milter di Lumajang. Sedangkan laskar Hizbullah di bawah pimpinan Kyai Ilyas melakukan serangan menembus pertahanan musuh secara mendadak di tempat-tempat yang didudukinya seperti Pasirian, Tempeh sampai Lumajang.

Ketika Pasru Jambe menjadi kota perjuangan para gerilyawan Republik Indonesia di Lumajang, tentu saja peran Pak sarjo sangat besar jasanya dalam memberikan informasi perihal kekuatan ekonomi perkebunan Belanda. Oleh karena itu pihak Belanda sangat marah atas pengkhianatan para pegawainya dan kemudian melakukan operasi penangkapan terhadap pak Sarjo dan kawan-kawannya. Dalam sebuah operasi besar ke Desa Pasru Jambe, Pak Sarjo yang saat itu menjadi salah satu pemimpin laskar “Gerah Meru” yang menjadi salah satu pendukung militer Republik Indonesia tertangkap. Komandan pasukan Belanda yang sangat marah atas pengkhianatan Pak Sarjo kemudian menyeretnya disertai tendangan dan pukulan sepanjang jalan Desa Pasru Jambe sampai Kecamatan Senduro. Setelah beberapa lama pak Sarjo kemudian dibawa sebagai tawanan ke kota Lumajang. Selama di tahanan itu tiada terhitung siksaan berupa pukulan terhadap dirinya sehingga kemudian menderita sakit Jiwa. Karena memang sudah parah, Pak Sarjo kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa. Setelah beberapa lama di Rumah Sakit Jiwa, pak Sarjo kemudian bermimpi di datangi ibunya dan kemudian bisa sembuh perlahan-lahan.

Pada jaman kemerdekaan, Pak Sarjo kemudian bekerja sebagai Polisi Pamong Praja sejak tahun 1953 sampai mengundurkan diri tahun 1976 dan setahun kemudian pak Sarjodiangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lumajang pada masa bakti1977-1982. Pasca mundur dari dunia politik ini pak Sarjo semakin meninggalkan keduniaan dan menjadi Resi pemuka agama Hindu. Pada tanggal 3 Pebruari 1986, Resi Sarjo masuk dalam kepengurusan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lumajang sebagai Wakil Ketua II Bidang Kerohanian. Saat itu ketua PHDI Lumajang adalah I Made Wirata SH yang merupakan Kepala Kejaksaan Negeri Lumajang dengan program utama mendiri “Pura Persembahyangan” yang bisa mengakomodir umat di Kabupaten lereng timur gunung Semeru ini. Akhirnya dengan perjuangan keras dari umat Hindu di Lumajang yang di dukung oleh umat Hindu Bali dibawah pimpinan Cokorda Agung Suyasa dari Puri Ubud. Pada tanggal 3 Juli 1992 Pura Mandara Giri Semeru Agung inipun diresmikan oleh Menko Kesra Suparjo Rustam. Di dampingi Gubernur Jawa Timur Sulasro, Bupati Lumajang Syamsi Ridwan dan pemuka-pemuka Hindu di Lumajang dan Bali. Pasca didirikannya Pura Mandara Giri Semeru Agung ini, Resi Sarjo Atmo Suryokusumo semakin banyak mendalami agama dan kemudian Beliau meninggal dunia pada tahun 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.