Pura Mandara Giri Semeru Agung: Meneruskan Tradisi Kesucian Gunung Semeru di Masa Lampau

Budaya Lokal Sejarah

Seiring berjalannya waktu, di kawasan Gunung Mahameru atau Semeru ini telah banyak ditemukan prasasti – prasasti sebagai jejak pendidikan maupun pertapaan dari para Brahmana Resi.

Oleh Mansur Hidayat

Menurut Babad Tantu Panggelaran yang ditulis pada sekitar abad ke-14 disebutkan pada masa yang lalu tanah Jawa tidak berpenghuni disebabkan setiap hari mengalami guncangan besar. Karena gempa yang berlangsung sampai 7 kali sehari tersebut, jangankan manusia, para jin saja enggan dan takut menghuni pulau subur ini. Melilhat keadaan yang tidak baik ini, maka Batara Syiwa sebagai pimpinan para Dewa memanggil para Dewa lainnya untuk diajak musyawarah di istananya yaitu Jonggring Salaka. Dalam diskusi tersebut disepakati supaya pulau Jawa segera distabilkan dengan jalan memberi “soko guru” yang berasal dari puncak sebuah gunung di Jambu Dwipa (India) bernama “Mandara” yang ujungnya mencapai langit.

Setelah musyawarah selesai, maka Batara Syiwa memerintahkan Batara Brahma untuk mengangkat puncak gunung Mandara tersebut dengan menjadi kura-kura raksasa, sedang Batara Bayu mengangkat puncak gunung Mandara untuk diletakkan diatas punggung kura – kura raksasa dan Batara Wisnu berubah menjadi naga raksasa dengan membelit puncak gunung Mandara tersebut supaya tidak jatuh. Dalam perjalanan yang jauh tersebut, puncak gunung Mandara tersebut kemudian tercecer di sepanjang pulau Jawa yaitu gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Lawu, gunung Kelud dan puncaknya menjadi gunung Penanggungan, sedangkan pangkalnya yang sangat besar dan kokoh menjadi gunung Mahameru atau Semeru yang kemudian supaya tidak miring ditunjang oleh reruntuhannya menjadi gunung Bromo. Dari cerita turun temurun ini, gunung Semeru-pun kemudian dianggap sebagai gunung yang suci bagi masyarakat Jawa yang saat itu beragama Hindu Budha.

Dengan berjalannya waktu, gunung Semeru yang dianggap suci tersebut kemudian banyak dikunjungi oleh masyarakat umum, para Brahmana dan sampai para raja. Salah satu dokumen penting perjalanan mencari “Air suci” ke gunung Mahameru atau Semeru tersebut sampai sekarang dapat dilihat dalam “Prasasti Ranu Kumbolo” berangka tahun 1182 Masehi yang menceritakan perjalanan seorang raja Kediri  bernama “Kameswara” ke Ranu Kumbolo. Oleh karena itu tidak mengherankan jika disekitar gunung suci Mahameru ini kemudian ditemukan banyak prasasti sebagai bukti adanya asrama pendidikan maupun pertapaan dari para brahmana Resi. Prasasti-prasasti yang ada di sekitar Mahameru tersebut seperti “Prasasti Tesirejo” dari Desa Kertosari kecamatan Pasru Jambe yang berangka tahun 1192 Masehi. Kehidupan para Brahmana Resi ini terus berkembang sampai abad ke-15 dengan bukti diketemukannya 24 Prasasti Pasru Jambe yang berangka tahun 1459 Masehi maupun 1469 Masehi. Disamping angka tahun, gambar alat upacara Yantra maupun simbol 8 penjuru mata angin,  juga berisi doa – doa untuk para Bramana Muda yang menikah. Oleh karena itu di wilayah timur Mahameru disekitar Pasru Jambe dan Senduro diperkirakan bekas Kawasan Mandala besar bernama Kukup.

Setelah abad ke-8 tepatnya ketika VOC Company datang menaklukkan Lumajang dibawah pimpinan Kapten Troponegoro pada tahun 1767 Masehi, kehidupan damai para Brahmana di lereng timur Mahameru telah dihancurkan. VOC Company kemudian berusaha memasukkan pendatang baru untuk menggantikan penduduk lama keturunan para Brahmana yang tetap tidak mau tunduk pada Belanda. Keturunan para Brahmana ini kemudian bertahan dengan memeluk agama leluhurnya yaitu Hindu Buddha sampai sekarang.

Entah secara kebetulan atau tidak, pada jaman kemerdekaan Republik Indonesia diperoleh pada 17 Agustus 1945 para pemuka keturunan Brahmana Resi yang beragama Hindu Buddha semakin menyadari perlunya suatu tempat persembahyangan terpusat yang sebelumnya hanya ada di desa – desa. Para pemuka agama Hindu Buddha ini yang  menjadi pengurus Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lumajang pada sekitar tahun 1980-an berinisiatif untuk mendirikan Pura terpusat untuk Kabupaten Lumajang. Sejak tahun 1986 gagasan pendirian Pura dimulai dengan rencana luasnya 20 X 60 meter persegi. Dalam perkembangannya, karena ketiadaan dana tokoh – tokoh pelopor pendirian Pura seperti Pak Sarjo Atmo Suryo Atmojo, Pak Jumadi Setyo, Pak Wijoyo Seno dengan di dukung oleh Pendeta Satguna Sidhi dan Ketua PHDI I Made Wiratha SH melakukan penggalangan dana tidak hanya di Lumajang namun ke pulau Dewata Bali Dwipa. Kebetulan ada salah seorang bangsawan Ubud bernama Cokorda Agung Suyasa yang menjembatani para pelopor pendirian Pura di Lumajang dan Pada tahun 1989 gerakan penggalian dana di pula Bali terus digalang yang kemudian mendapat dukungan dana dari Gubernur Bali saat itu Prof. Ida Bagus Mantra. Bagi pemuka Hindu Bali, gunung Semeru adalah perwujudan gunung suci Mandara di India dan sebagaiu tempat dari Hyang Pasopati bersemayam sehingga seluruh umat Hindu Bali wajib untuk bergotong royong membangun pura di lereng gunung suci ini.

Pada awalnya pendirian Pura Senduro Lumajang yang luasnya diperkirakan 20 X 60 meter terus berkembang. Lahan Bapak Ngatris seorang umat Hindu Senduro kemudian dibeli sekitar 1 hektar. Dana yang mengalir seperti tiada habisnya, demikian juga pekerja bergiliran dari umat Hindu Lumajang sampai umat Hindu Bali juga datang bergotong royong. Dari pulau Bali ratusan orang datang membantu, disamping itu juga umat Hindu Lumajang juga datang bahu – membahu. Setelah menghadapi berbagai halangan dan rintangan maka pada tanggal 3 Juli 1992 diresmikanlah Pura Senduro Lumajang ini dengan nama “Mandara Giri Semeru Agung” dengan dihadiri oleh Menko Kesra Suparjo Rustam, seorang petinggi ABRI Letjen IB Sujana, Gubernur Jawa Timur Sularso dan Bupati Lumajang, Syamsi Ridwan.

2 thoughts on “Pura Mandara Giri Semeru Agung: Meneruskan Tradisi Kesucian Gunung Semeru di Masa Lampau

  1. Luar biasa. Semoga menambah semangat utk aktif melestarikan budaya luhur sbg bangsa yg beradab.

    1. Trimakasih atas support nya senior, semoga panjenengan selalu sehat dan terus berkarya untuk budaya nusantara
      salam hangat dari lumajang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.