Mandala Kukup, Kawasan Pendidikan dan Pertapaan Hindu Buddha Terbesar di Nusantara Tahun 1400-an

Cagar Budaya Sejarah

Babad Tantu Penggelaran yang ditulis pada akhir masa Majapahit atau sekitar abad ke-14 menceritakan tentang terjadinya gunung Mahameru atau gunung Semeru sebagai soko guru atau tiang penyeimbang bagi pulau Jawa dengan memindahkan ujung gunung Mandara dari India yang ujungnya pencapai langit.

Oleh: Mansur Hidayat

Cerita dalam Babad Tantu Panggelaran ini sebenarnya adalah sebuah cerita yang meneruskan tradisi turun – temurun  yang sudah ada dalam kepercayaan manusia Jawa tentang kesucian gunung Semeru ini seperti yang kita ketahui dengan adanya “Prasasti Ranu Kumbolo” yang menceritakan perjalanan “Tirta Yatra” atau mencari air suci seorang raja Kediri bernama Kameswara yang dilakukan pada tahun 1182 Masehi. Perlu diketahui Prasasti ini terletak di Ranu Kumbolo yang masuk desa Ranu Pani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.  Prasasti Ranu Kumbolo ini kemudian disusul dengan adanya “Prasasti Tesirejo” dari Desa Kertosari Kecamatan Pasru Jambe Kabupaten Lumajang  yang berisi Candra Sengkala “Kaya Bhumi Sasiku” atau tahun 1113 Saka atau 1991 Masehi.

Pada jaman Hindu Buddha, disekitaran gunung Mahameru atau Semeru yang dianggap suci tersebut banyak terdapat tempat pendidikan atau pertapaan yang saat itu sangat di hormati oleh elit kerajaan maupun masyarakat. Ramainya para peziarah ke gunung suci ini baik dikalangan masyarakat umum maupun kalangan raja-raja menyebabkan dibutuhkan juga pelayanan spiritual maupun material dengan penyediaan penunjuk jalan, pengangkat barang – barang  bawaan sampai pada pelayanan upacara keagamaan yang diperlukan. Oleh karena itu, di sekitaran muncul asrama pendidikan maupun pertapaan yang diperkirakan ada di sekitaran desa Pasru Jambe Kecamatan Pasru Jambe Kabupaten Lumajang. Menurut  Dwi Cahyono seorang sejarawan dan arkeolog Universitas Negeri Malang (UNM) dalam penelitian lapangannya ke lokasi ditemukannya banyak prasasti di Desa Pasru Jambe pada tahun 2011 jalan pendakian purba menuju gunung Semeru terletak disekitaran desa ini.

Di Dusun Tulung Rejo, Desa Pasru Jambe ini ditemukan sekitar 24 prasasti yang mempunyai angka tahun dari 1459 Masehi dan 1469 Masehi dengan isinya yang bermacam-macam mulai dari nama maha guru dan para resi seperti Bagawan Citra Gotra dan Bagawan Caci maupun nama tokoh – tokoh  lainnya seperti sang Bala Sariwu dan Sang Nawakrnda. Disamping itu juga ada larangan mengganggu orang bertapa di hutan, nasehat – nasehat  perkawinan supaya langgeng untuk para Brahmana muda dan juga ada gambar alat – alat upacara berupa Yantra. Dari 24 buah Prasasti, ada 19 buah prasasti yang ditemukan pada tahun 1980-an sempat di pindahkan ke kantor penyimpanan benda Purbakala Dinas Pendikan Kabupaten Lumajang dan Fakultas Sastra Universitas Jember dan sekarang ini disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. Kemudian 1 buah prasasti pada tahun 2012 dipindahkan ke Kantor Pariwisata dan sekarang di Museum Daerah sedang  4 buah prasasti yang ditemukan disekitaran rumah Bapak Paijan pada tahun 2017  ada 2 buah disimpan di Museum Daerah Kabupaten Lumajang yang salah satunya berupa “simbol 8 mata angin”, 1 buah prasasti disimpan di Biting Mega Wisata dan 1 buah belum teridentifikasi karena ada ditangan penemu.

Dari banyaknya prasasti dan tahun pembuatan prasasti tersebut pada tahun 1450-an dapat diperkirakan bahwa saat itu wilayah lereng gunung Semeru tepatnya di wilayah Pasru Jambe merupakan asrama pendidikan bagi para Brahmana muda. Hal ini diperkuat dengan sebuah keterangan dalam Babad Bujangga Manik, sebuah babad yang menceritakan perjalanan seorang bangsawan Sunda kerajaan Pakuan Pajajaran yang mendalami ilmu agama Hindu bernama “Bujangga Manik” yang ditulis pada sekitar tahun 1970-an melakukan perjalanan ke tempat – tempat yang dianggap suci dan juga belajar agama di asrama – asrama para Brahmana. Dalam perjalanan menjelajahi pulau Jawa dan Bali ini, Bujangga Manik pada saat berangkat melewati pantai utara Jawa menuju Bali dan pada saat pulangnya melewati pesisir selatan Jawa dan melewati Lumajang. Salah satu yang dikunjungi oleh Bujangga Manik adalah “Mandala Kukup” di timur gunung Mahameru atau Semeru. Perlu diketahui dari laporan Bujangga Manik ada  3 Mandala utama (Kawasan pendidikan dan pertapaan) pada saat itu yaitu pertama adalah Mandala Sagara yang terletak di pegunungan Hyang (gunung Lemongan) dan diperkirakan sekarang terletak di Kecamatan Tiris Kabupaten Probolingo. Kedua adalah Mandala Dhingdhing yang ada digunung Brahma (Bromo), lokasinya tidak diketahui dan yang terakhir adalah Mandala Kukup yang terletak di gunung Mahemeru. Banyak ahli berbeda-beda pendapat mengenai masalah letak Mandala Kukup ini, beberapa sejarawan mengatakan bahwa Mandala Kukup terletak di sekitaran Ampel Gading tempat ditemukannya Prasasti Greba, namun melihat banyaknya prasasti di Pasru Jambe diduga keras letak Mandala Kukup ada di Desa Pasru Jambe. Melihat 3 gunung tempat Mandala berada yaitu gunung Hyang, gunung Brahma dan gunung Mahameru, maka gunung Mahameru adalah gunung paling suci diantara ketiganya dan sangat layak jika Mandala Kukup dapat dikatakan sebagai Mandala terbesar saat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.