Makna Caru Panca Satya Dalam Upacara Keagamaan Hindu

Budaya Lokal

Caru merupakan salah satu sesajen wajib pada Upacara Bhuta Yadnya yang bertujuan untuk menetralisasi energi negatif  “Panca Mahabhuta” pada Bhuana Agung.

Oleh : Ananda Kenyo

Upacara “Mecaru” berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan untuk menumbuhkan kesadaran agar umat  Hindu memiliki wawasan ke- semestaan alam maupun sebagai bentuk pengorbanan suci.

“Caru itu sebagai bentuk pengorbanan suci yang berfungsi sebagai penyeimbang energi di Bhuana Agung.” Ujar Mangku Ajik dari Besakih yang nemba di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang pada Rabu pada tim Masmansoer.com beberapa hari yang lalu.

Banten atau sesajen yang digunakan dalam “Caru” selalu menggunakan binatang kurban. Penggunaan binatang ini sangat menentukan nama dan tingkatan “Banten Caru” tersebut.  Dalam kaitannya, “Upacara Caru Panca Sata” adalah jenis caru yang menggunakan 5 ekor ayam dengan warna menurut 5 mata angin (pengider-ider) yaitu ayam putih di timur, ayam merah diselatan, ayam hitam di utara, ayam putih kuning di barat dan brumbun di tengah. Penggunaan lima jenis ayam dalam upacara caru panca sata bermakna mengarahkan umat Hindu yang hendaknya mengurbankan dan mengendalikan sifat-sifat yang mampu menggelapkan hati manusia.

Binatang ayam dijadikan sarana dalam “Upacara Caru Panca” karena ayam itu memiliki sifat rajas. Ayam sifatnya sangat energik, suka berkelahi, suka merebut makan milik sesamanya. Ayam sangat taba, sulit diatur, dan bisa berak disembarang tempat. Sifat-sifat ayam ini harus ditekan atau dikendalikan agar sifat-sifat ayam ini dapat diambil positifnya seperti bersemangat dan tidak mudah menyerah dalam perjuangan hidup, maka sifat-sifat itu akan menjadi sangat positif bagi kehidupan manusia.

Persiapan Sebelum Upacara Caru Panca Satya

Dalam setiap perayaan atau upacara yang dilaksanakan warga Hindu tidak bisa dilepaskan dari upacara atau sajen yang digunakan. Oleh karena itu, sebelum upacara caru panca dilaksanakan atau satu hari sebelum piodalan dimulai para panitia Pura Mandhara Giri Semeru Agung mempersiapkan upacara sesuai tugasnya masing-masing. Para panitia tersebut dibagi menjadi kelompok pembuat caru dan kelompok pembuat banten.

Mangku Ajik juga menjelaskan, bahwa kelompok pembuat caru ini terdiri dari banyak laki-laki yang bertugas mempersiapkan Banten Caru Panca Sata, menyembelih hewan kurban, mengelola dan memasaknya.

Persiapan pertama yang dilakukan adalah menyembelih hewan caru diantaranya ayam putih, ayam merah atau biying, ayam hitam, ayam kuning dan ayam brumbun. Setiap penyembelihan hewan kurban biasanya dilakukan oleh pemangku, namun kelompok pembuat caru dituahkan oleh pemangku untuk menyembelih hewan caru.

Saat menyembelih ayam, bayang-bayang (layang-layangnya) berupa kulit, bulu, kepala, kaki dan sayap dibiarkan tetap utuh melekat pada kulit. Sedangkan dagingnya digunakan untuk berbagai olahan. Setelah kelompok Caru menyembelihnya, yang perlu diperhatikan adalah membedakan darah berdasarkan jenis ayam. Darah ini dipakai untuk melengkapi “Tetandingan” (mentah dalam takir daun pisang).

Setelah olahan itu matang, semua banten caru diletakkan diatas sengkwi, dilengkapi dengan sorohan Banten Caru, tumpeng dan nasi menurut warna, urip masing-masing ayam atau arah mata angin kemudian disimpan di pelataran suci.

Penataan Caru

Susunan masing-masing Banten Caru ini disusun berdasarkan pengider-ider atau arah mata angin dilengkapi dengan banten pelengkap, diantaranya yakni :

Yang pertama, di timur ditempatkan caru ayam putih dialasi sengkwi (penutup kepala ayam) yang lembarannya 5 lembar. Diatasnya dibentangkan bayang-bayang ayam putih, lalu olahan 5 tanding diatasnya sega putih 5 tanding.

Yang kedua, di selatan ditempatkan caru ayam merah atau biying. Dialasi sengkwi (penutup kepala ayam)  yang lembarannya 9 lembar. Diatasnya dibentangkan bayang-bayang ayam merah atau biying, lalu olahan 9 tanding. Diatasnya nasi sega warna 9 tanding. Kemudian letakkan 1 unit bayuan merah.

Yang ketiga, di barat ditempatkan caru ayam putih kuning. Dialasi sengkwi (penutup kepala ayam) yang lembarannya 7 lembar. Diatasnya dibentangkan bayang-bayang ayam putih kuning, lalu olahan 7 tanding. Diatasnya nasi sega kuning 7 tanding. Kemudian di letakkan satu unit bayuan kuning.

Yang keempat, di utara ditempatkan caru ayam hitam. Dialasi sengkwi (penutup kepala ayam)  4 lembar. Diatasnya dibentangkan bayang-bayang ayam hitam, lalu olahan 4 tanding. Kemudian diletakkan satu unit bayuan hitam.

Terakhir, di tengah ditempatkan caru ayam brumbun. Dialasi sengkwi (penutup kepala ayam)  8 lembar. Diatasnya dibentangkan bayang-bayang ayam brumbun dan olahan 8 lembar tanding. Diatasnya nasi sega manca warna.

Selanjutnya pada masing-masing unit caru itu dilengkapi jeroan dan sate lemba. Kemudian ditancapkan sanggah cucuk yakni berupa sebatang penjor dari cabang bambu lengkap dengan sampaiannya.

Makna Upacara Caru Panca di Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Upacara Caru Panca adalah upacara korban suci yang terbuat dari 5 jenis ayam, disembelih dan diolah menjadi simbol-simbol berupa makanan khas untuk menjamu bhuta kala supaya menjadi harmonis. Pelaksanaan upacara caru panca sata tidak terlepas dari memohon berkah dan anugerah dari Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kebahagiaan.

Umat hindu di Pura Mandhara Giri Semeru Agung memaknai upacara caru panca sata sebagai wujud bhakti, kasih dan yajna kehadapan Sang hyang Widhi Wasa. Kasih ini diwujudkan dengan pelaksanaan yajna caru panca sata dengan menjamu mereka dengan makanan (caru) dan minuman. Kasih mendorong manusia agar mengekang hawa nafsu diri dan rasa mengabdi pada Tuhan untuk kebahagiaan hidup manusia.

 Pelaksanaan upacara caru panca sata ini bersifat wajib bagi umat hindu karena sebagai bentuk bentuk pembalasan budi kepada Tuhan melalui upacara dewa yajna. Upacara caru panca sata ini tergolong dalam pelaksanaan upacara bhuta yajna dan dilaksanakan sebagai penyerta upacara dewa yajna dalam hal ini piodalan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung.

Seberapa besarnya suatu upacara atau upakara dipersembahkan harus dilandasi dengan hati yang suci serta ketulusan dan keikhlasan serta dibarengi dengan pemahaman akan makna dan tujuan dari yajna agar mendapatkan pahala sesuai yang diharapkan dan tidak menimbulkan penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.