Jejak Prasasti di Lereng Timur Gunung Suci Mahameru

Cagar Budaya Sejarah

Gunung Mahameru atau gunung Semeru yang dianggap suci dalam kepercayaan Hindu di Nusantara sejak jaman Hindu Buddha di abad – abad 10 sampai sekarang ini.

Oleh : Mansur Hidayat

Pada masa yang lalu kita dapat merunut sebuah cerita tentang seorang raja Kediri bernama “Kameswara” yang melakukan perjalanan “Tirta Yatra” atau mencari air suci sampai ke Ranu Kumbolo dan untuk mengenang perjalanan besar ini ditulislah sebuah prasasti yang dikenal sebagai “Prasasti Ranu Kumbolo” yang berangka tahun 1182 Masehi. Sembilan tahun kemudian pasca dikeluarkannya Prasasti Ranu Kumbolo ini kemudian di susul oleh Prasasti Tesirejo di Desa Kertosari dengan tulisan Candra Sengkala “Kaya Bhumi Sasiku” yaitu  tahun 1113 Saka atau 1191 Masehi.

Prasasti yang berkaitan dengan kesucian gunung Mahameru atau Semeru di masa selanjutnya adalah Prasasti Munggir atau yang juga dikenal sebagai Prasasti Pasru Jambe. Prasasti ini ditemukan di sebuah mata air jernih bernama “Sumber Rowo” yang terletak Dusun Munggir Desa Pasru Jambe Kecamatan Pasru Jambe Kabupaten Lumajang atau di lereng timur gunung Semeru. Keberadaan Prasasti Pasru Jambe ini pertama kali dilaporkan oleh Dinas Purbakala pada tahun 1954, namun belum jelas isi yang tercantum di dalamnya. Pada sekitar penghujung tahun 1983, Prasasti Pasru Jambe ini diteliti oleh seorang epigraf dari Balai Arkeologi Yogyakarta bernama Sukarto M. Atmojo yang kemudian diperoleh keterangan tentang isinya. Penelitian tentang Prasasti Pasru Jambe ini kemudian diulangi lagi oleh Ibu Titi Surti Nastiti dkk., dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada tahun 1990-an. Prasasti Pasru Jambe berangka tahun 1381 Saka atau 1459 Masehi berisi berbagai macam nama Dewa agama Hindu seperti Batara Mahisora (Betara Syiwa), berbagai nama Brahmana Resi seperti Bagawan Citragotra, Bagawan Caci, Kata bermakna tempat yaitu “Rabut Macan Pethak” maupun petuah-petuah perkawinan dan alat – alat upacara seperti “Yantra” dan yang terbaru ditemukan pada tahun 2017-an bergambar simbol “8 Penjuru Angin”.

Disamping berisi nama – nama yang berhubungan dengan Dewa dan peralatan upacara agama Hindu, Prasasti ini juga berisi petuah – petuah bagi para brahmana muda supaya langgeng dalam perkawinan, larangan mengganggu hutan para pertapa maupun tulisan “Rabut Macan Pethak” yang diperkirakan menunjuk pada Orang Suci dari Macan Putih atau Blambangan. Prasasti Pasru Jambe ini ditulis dalam huruf Jawa kuna dengan dialek pinggiran yang artinya tidak terpengaruh oleh tata bahasa pusat kerajaan. Jenis bahasa yang digunakan dalam prasasti ini sama dengan Prasasti Gerba yang ditemukan di Kecamatan Ampel Gading Kabupaten Malang.

Mata air bernama Sumber Rowo terletak di Dusun Munggir Desa Pasru Jambe Kecamatan Pasru Jambe Kabupaten Lumajang yang sampai hari ini kejernihan dan kesejukan airnya terus mengalir dengan derasnya. Beberapa tahun lalu di Sumber Rowo ini berdiri sebuah pohon beringin tua raksasa berdiameter sekitar 4 – 5 meter, namun pada tahun 2012 beringin tua ini tumbang. Diperkirakan Mata air Sumber Rowo  digunakan oleh para Brahmana Resi Hindu di Mandala Kukup untuk melakukan pemberkatan terhadap para peziarah yang melakukan Tirta Yatra ke gunung Mahameru maupun para pertapa dan siswa dalam melakukan ritual suci agama Hindu.

Sampai tahun 1980-an ke – 19 Prasasti yang ada di dekat Sumber Rowo tersebut sebagian masih tersimpan di Kantor Departemen Pendidikan Kecamatan Senduro, rumah Bapak Suroso seorang guru agama Hindu maupun Fakultas Sastra Universitas Jember. Baru pada pertengahan tahun 1990-an ke – 19  prasasti ini di simpan di Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur. Pada tahun 2012, satu buah Prasasti yang ada di belakang rumah Pak Paijan tahun oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dipindahkan ke kantor Pariwisata, Seni dan Budaya dan kemudian sejak tahun 2015 menjadi koleksi Museum Daerah Kabupaten Lumajang. Pada tahun 2017 dibelakang rumah Pak Painjan ditemukan kembali sekitar 4 Prasasti yang kemudian 2 diantaranya disimpan di Museum Daerah Kabupaten Lumajang dan 1 buah di simpan di kantor Biting Mega Wisata (BMW) di Kawasan Situs Biting, sedang 1 buah lainnya tidak jelas keberadaannya.

Keberadaan Prasasti Munggir atau Prasasti Pasru Jambe mulai dikenalkan ke masyarakat ini diawali dengan penelusuran Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) pada sekitar tahun 2012 yang melakukan penelusuran bersama sejarawan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono ke Dusun Munggir. Tim ini kemudian menemukan lokasi bekas penemuan ke-19 prasasti dengan mata air sucinya yang seolah terlupakan dan terabaikan.

Di Kabupaten Malang sendiri terdapat Prasasti Gerba yang berjumlah 2 buah yang isinya kurang lebih sama dengan Prasasti Munggir atau Pasru Jambe. Kedua prasasti ini ditemukan di Desa Gerba, Kecamatan Ampel Gading. Namun untuk keberadaan Prasasti Gerba ini tim MMC masih mencari informasi.

1 thought on “Jejak Prasasti di Lereng Timur Gunung Suci Mahameru

  1. Good day

    50% OFF!! Hurry to get your Baseball Cap Now!

    These Caps are SO cool! Perfect for this Summer!

    Free worldwide shipping!

    GET IT HERE: capshop.online

    Best,

    Ericka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.