Arya Wiraraja Bagi Wilayah Keagamaan: Brahmana Hindu di Lereng Semeru dan Kasogatan Buddha di Pesisir

Sejarah

Wilayah bernama Lamajang pertama kali dikenal pada saat kekuasaan kerajaan Tumapel Singosari seperti yang tertera dalam Prasasti Mula Malurung, sebuah prasasti tembaga dari kerajaan Singosari berangka tahun 15 Desember 1255 yang diketemukan di sebuah pasar loak di Kediri pada sekitar tahun 1977.

Oleh : Mansur Hidayat

Dalam prasasti peninggalan raja Sminingrat atau Wisnu Wardhana tersebut disebutkan bahwa Raja Tumapel mengangkat anak, sepupu dan keponakannya untuk menjadi pengusa di negara-negara bawahannya seperti Nararya Mudhaya di Daha, Naraya Turuk Bali di Glang Glang dan Nararya Kirana di Lamajang.

Pada saat pengangkatan Nararya Kirana tersebut, wilayah Lamajang diperkirakan sebagai wilayah suci yang ramai dikunjungi untuk “Tirta Yatra” seperti yang dilakukan oleh raja Kameswara dari Kediri pada tahun 1182 Masehi. Oleh karena itu wilayah Lamajang sejak jaman kuno sudah dikenal sebagai tlatah Dewa atau tempatnya para Dewa dengan banyaknya para asrama pendidikan dan pertapan.

Pada saat jaman Lamajang Tigang Juru dibawah pimpinan Arya Wiraraja, wilayah ini menjadi sangat penting karena Arya Wiraraja yang merupakan seorang “Pendita Ratu” atau seorang penguasa yang sangat menghormati para agamawan dalam hal ini para Brahmana Hindu dan Bhiksu Buddha sesuai dengan keyakinan agama yang ada berkembang sejak jaman kerajaan Tumapel Singosari. Arya Wiraraja menjadi raja di Lamajang Tigang Juru  adalah orang yang berjasa pada kerajaan Majapahit dan merupakan tokoh yang disegani karena pemikiran dan siasat perangnya saat mengalahkan kediri dan pasukan Mongol Tar Tar. Ia menjadi raja pada umur 64-an tahun dengan semangat untuk menjaga kesucian gunung Mahameru.

Pada jaman Arya Wiraraja berkuasa inilah diperkirakan komplek percandian Syiwa di wilayah Kunir didirikan dan juga pembagian wilayah Mandala bagi 2 agama yang berkembang saat itu. Mandala Kadewaguruan dan Karesiyan untuk para brahmana Syiwa atau Hindu diletakkan dilereng lereng gunung Mahameru yang saat itu dianggap suci yang sekarang meliputi Kecamatan Ampel Gading (Kabupaten Malang), Pronojiwo, Candipuro, Pasru Jambe dan Gucialit (Kabupaten Lumajang). Hal ini dapat dilihat dari 24 Prasasti Pasru Jambe berangka tahun 1459 Masehi maupun laporan dari Babad Bujangga Manik pada tahun 1470-an Masehi yang menceritakan adanya Mandala Kukup dilereng timur Mahameru.  Oleh karena itu di wilayah ini berkembanglah ajaran Syiwa dengan baik dan cukup kuat sampai nanti masa Sultan Agung pada  tahun 1620-an dan VOC Kumpeni Belanda pada tahun 1767-an memporak-porandakan tatanan kesucian ini.

Disamping Mandala untuk para brahmana Syiwa, para pendeta dan Bhiksu Buddha juga mendapat tempat yang layak dengan menempati wilayah pesisir Lamajang Tigang Juru. Berita tentang adanya asrama pendidikan agama Buddha ini dapat dilihat dalam Babad Negara Kertagama  yang menceritakan tentang perjalanan seorang raja besar kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk dan Maha Patih Gaja Mada ketika melewati pesisir Lumajang pada tahun 1359 Masehi. Pada saat itu disebutkan oleh penulisnya yaitu Mpu Prapanca  di Pupuh ke 22 ayat 2 yaitu “Kasogatan Bajrakangsa Ri Taladhwaja telasapageh cinarccaken, Dulunya ri Patunjungan Kaselanging bala turungumulih mareng kuti”, Kasogatan (Padepokan agama Buddha) Bajraka wilayah Taladhwaja telah termaktub dalam catatan, selanjutnya di Patunjungan diabaikan oleh rakyat belum kembali ke asrama yang menurut Prof. Slamet Mulyana dikatakan tidak kembali ke asrama karena sedang berperang. Dari gambaran tersebut sangat jelas pada masa yang lalu wilayah pinggiran kerajaan Lamajang Tigang Juru adalah wilayah yang dikelola oleh para brahmana Hindu maupun pendeta Buddha untuk kepentingan keagamaan yang kemudian dihancurkan total pada masa masuknya VOC Kumpeni.

2 thoughts on “Arya Wiraraja Bagi Wilayah Keagamaan: Brahmana Hindu di Lereng Semeru dan Kasogatan Buddha di Pesisir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.