Arti dan Makna Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru Agung, di Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

Budaya Lokal

Republik Indonesia terdiri dari 6 agama besar, puluhan kepercayaan dengan keberagaman suku dan budayanya tentu memiliki banyak tradisi atau upacara tertentu yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Salah satunya adalah UpacaraPiodalan (Odalan) atau yang disebut juga sebagai pujawali, petoyan atau petirtaan bagi umat Hindu.

Oleh : Ananda Kenyo

Upacara Piodalan atau Odalan adalah sebuah ritual upacara keagamaan Hindu yang dikenal sebagai peringatan hari lahirnya atau hari ulang tahun bagi Pura Mandhara Giri Semeru Agung yang diresmikan pada 3 Juli 1992 dan diresmikan oleh Menko Kesra saat itu Bapak Suparjo Rustam. Upacara Piodalan ini merupakan upacara yang rutin diadakan setahun sekali. Upacara tersebut merupakan serangkaian dari upacara Dewayajna, sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi serta dengan seisinya yang ditujukan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang MahaEsa)

Pada tahun 2021,  upacara Piodalan dilaksanakan bertepatan dengan purnamasada yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2021. Acara dimulai pada bulan Juni sampai Juli bertempat di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, desa Senduro, Kabupaten Lumajang tentunya dengan mematuhi protocol kesehatan mengingat pandemi yang belum berakhir di Indonesia. Selain itu, PHDI Lumajang juga akan mengatur jalannya persembahyangan agar sesuai dengan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

Peserta hadir biasanya mencapai ratusan ribu orang dari berbagai penjuru tanah air, kali ini dibatasi 60 orang setiap harinya sehingga banyak umat Hindu di berbagai wilayah membatalkan diri untuk ikut dalam upacara Piodalan saat ini. Bagi para pemuka Hindu Piodalan kali ini dimaksudkan untuk mendoakan pandemi cepat berlalu dengan melakukan upacara persembahyangan dengan khidmat.

RangkaianAcara

Sebelum ke acara inti, pada tanggal 26 Mei 2021 dilaksanakan Matur Piuning. Dilaksanakannya Matur Piuning ini adalah untuk meminta restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar kegiatan Piodalan yang akan dilaksanakan mendapatkan kelancaran, keselamatan, dan kesuksesan serta dapat berjalan dengan baik sesuai dengan rencana juga Acara Matur Piuning ini dilaksanakan dengan mempersembahkan daksina, banten, dan canang sari.

Selanjutnya pada akhir Juni 2021 dilakukan pengambilan tirta (air suci) di Watu Klosot. Watu Klosot sendiri adalah lokasi yang dianggap sangat penting dalam ritual umat Hindu karena merupakan tempat bertemunya 7 sumber mata air yang nantinya akan dijadikan tirta. Tirta (air suci) tadi nantinya akan dipercikkan oleh pemuka agama Hindu dalam upacara Piodalan. Nama Watu Klosot sendiri diberikan karena pada masa lalu setiap orang yang datang ke tempat tersebut harus melewati jalan terjal termasuk jika membawa bambu atau kayu hutan dimana barang bawaannya dilempar dan orang yang membawanya harus “ngelosot” atau meluncur diatas batu.

Setelah mendapatkan tirta suci, umat Hindu kemudian melakukan upacara Tawur Labuh Gentuh adalah prosesi ritual tawur yang bertujuan untuk memohon keharmonisan alam. Melalui upacara ini, diharapkan tercipta sarwahita atau sarwasukerta. Semua unsur yang ada menjadi senang (hia) dan memperoleh kerahayuan (sukerta). Fungsi upacara sesungguhnya mengingatkan umat agar selalu menjaga kelestarian alam. Upacara ini juga merupakan serangkaian acara dalam upacara piodalan.

Disamping itu dalam rangkaian upacara Piodalan ini ada beberapa upacara yang dilakukan seperti: Ngentegang (Negtegang Pedagingan), adalah upacara untuk memohon keberhasilan dan kesuksesan seluruh bahan atau material yang digunakan untuk upkara karya piodalan, seperti mecaru ayam. Upacara Mapedanan, upacara ini dilaksanakan dengan cara beramai-ramai merebut benda-benda di “pedanan”  yang merupakan lambing untuk melepaskan diri dari sifat-sifat yang tidak baik yang disalurkan kedalam benda-benda di pedanan. Upacara Mapedanan ini mempunyai tujuan untuk menyucikan secara ritual binatang-binatang yang akan dijadikan kurban secara lahir batin. Setelah itu, dilakukan upacara Mejaya-jaya, sebagai lambang permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tujuan agar roh hewan yang akan dijadikan kurban mendapatkan tempat yang layak sesuai dengan fungsinya sebagai binatang kurban untuk tujuan yang suci.

Puncak Piodalan sendiri dimulai pada akhir bulan Juni dan proses yang dilakukan sama dengan tahun-tahun sebelumnya yakni Ngaturang Piodalan Ida Bathara. Dipimpin oleh Pandita atau Ida Pedanda dan prosesi dilakukan secara Kejawen dan Bali.

Makna Piodalan

Menurut Romo Mangku Misto sebagai pemangku agama di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Piodalan kali ini dimaknai sebagai bentuk upaya menghaturkan bakti terhadap tuhan yang Maha esa mengingat situasi alam saat ini yang kurang bersahabat karena pandemi. Persiapan hingga pelaksanaan maupun penyediaan sarana prasarana dilakukan secara bersama oleh umat Hindu dari berbagai daerah.

“Kebersamaan yang dibangun bersama umat dalam menyukseskan rangkaian Piodalan ini merupakan cerminan keseimbangan antara umat beragama di Indonesia” Ujar Romo Mangku Misto.

Lebih lanjut pemangku yang ramah ini juga menjelaskan aturan pelaksanaan Piodalan tahun ini yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Pamedek yang baru datang akan diarahkan ke Lapangan Senduro untuk menjalani pemeriksaan kesehatan serta administrasi yang diperlukan” pungkasnya.

Dipastikan, PHDI Lumajang akan terus mengatur dan memantau jalannya persembahyangan agar para pamedek bisa menjaga jarak dan menghindari kerumunan selama nangkil di pura. Begitu juga akan disiapkan fasilitas untuk mencuci tangan dan dipastikan mencukupi jumlahnya. Dalam upacara ini seluruh umat Hindu juga akan berdoa supaya nantinya kita diberikan anugerah sehat utamanya, dijauhkan dari segala macam rintangan termasuk penyakit.

“Memohon kepada Tuhan YME, Sang Hyang Dwiasa semoga negara kita segera pulih, dihindarkan dari segala penyakit. Tetap jaya dan bangkit sesuai dengan harapan bangsa Indonesia.“ Ujarnya.

Sementara itu makna Piodalan menurut Mangku Alit seorang Mangku yang datang dari pulau Dewata menyatakan niatannya harus dilakukan dengan ikhlas yang berarti pengorbanan suci sebagai bentuk rasa terima kasih kita karena telah diberi kehidupan, kesempurnaan oleh sang Hyang Widhi Wasa. Mangku Alit juga berpesan bahwa kita harus menyeimbangkan konsep hidup sederhana dan paling dasar untuk umat manusia yaitu Tri Kaya Parisuda atau tiga landasan etika manusia yang terdiri dari berpikir yang baik (manacika), berkata yang baik ( wacika), dan berbuat yang baik (kayika) yang harus diseimbangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.